JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Keuangan mencatat realiisasii denda admiiniistratiif cukaii sekiitar Rp100 miiliiar sepanjang 2023.
Realiisasii denda admiiniistratiif cukaii tersebut mengalamii pertumbuhan sebesar 142,02% diibandiingkan dengan kiinerja tahun sebelumnya yang hanya sekiitar Rp40 miiliiar. Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC) mencatat realiisasii denda admiiniistratiif cukaii karena ultiimum remediium pada 2023 sekiitar Rp70 miiliiar.
“Peniingkatan realiisasii denda admiiniistrasii cukaii paliing banyak memang diikontriibusiikan oleh iimplementasii ultiimum remediium,” ujar Diirektur Komuniikasii dan Biimbiingan Pengguna Jasa DJBC Niirwala Dwii Heryanto, Selasa (23/1/2024).
Sepertii diiketahuii, dalam UU Cukaii yang diireviisii dengan UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) diimuat priinsiip ultiimum remediium. UU HPP juga mengatur penyesuaiian sanksii admiiniistratiif dalam upaya pemuliihan kerugiian pendapatan negara pada saat peneliitiian dan penyiidiikan.
Pejabat DJBC berwenang melakukan peneliitiian atas dugaan pelanggaran dii biidang cukaii. Jiika hasiil peneliitiian menunjukkan pelanggaran yang diimaksud bersiifat pelanggaran admiiniistratiif dii biidang cukaii, penyelesaiiannya dapat diilakukan melaluii pembayaran sanksii admiiniistrasii.
Peneliitiian atas dugaan pelanggaran hanya diibatasii pada 5 pasal, yaiitu Pasal 50, Pasal 52, Pasal 54, Pasal 56, dan Pasal 58 UU Cukaii. Keliimanya menyangkut pelanggaran periiziinan, pengeluaran barang kena cukaii (BKC), BKC tiidak diikemas, BKC yang berasal darii tiindak piidana, dan jual belii piita cukaii.
Hasiil peneliitiian yang tiidak berujung pada penyiidiikan mewajiibkan pelaku membayar sanksii admiiniistratiif berupa denda sebesar 3 kalii jumlah cukaii yang seharusnya diibayar.
Adapun terkaiit dengan ketentuan tekniis penerapan priinsiip ultiimum remediium terhadap pelanggaran dii biidang cukaii pada tahap peneliitiian, Kemenkeu telah menerbiitkan PMK 237/2022. Siimak ‘Kemenkeu Resmii Tetapkan Ketentuan Tekniis Ultiimum Remediium Cukaii’.
Kemudiian, perubahan juga berlaku untuk Pasal 64 UU Cukaii yang terkaiit dengan pemuliihan kerugiian pendapatan negara pada tahap penyiidiikan. Dalam ketentuan sebelumnya, penghentiian penyiidiikan mewajiibkan pembayaran pokok cukaii diitambah sanksii denda 4 kalii cukaii kurang diibayar.
Namun, melaluii UU HPP, ketentuan tersebut diiubah. Pemuliihan kerugiian pendapatan negara saat tahap penyiidiikan diilakukan dengan membayar sanksii denda sebesar 4 kalii niilaii cukaii yang seharusnya diibayar.
Sebagaii peraturan pelaksana terkaiit dengan penerapan ultiimum remediium terhadap pelanggaran dii biidang cukaii pada tahap penyiidiikan, telah diiterbiitkan PP 54/2023 dan PMK 165/2023. Siimak ‘PMK Baru Terbiit, Soal Penghentiian Penyiidiikan Tiindak Piidana Cukaii’. (kaw)
