JAKARTA, Jitu News - iindeks ketahanan energii iindonesiia pada 2023 mencatatkan skor 6,64. Dengan skor tersebut, Rii masiih bertahan dii level 'Tahan' (rentang 6 hiingga 7,99). Dewan Energii Nasiional (DEN) menyebutkan iindeks ketahanan energii Rii iidealnya berada dii atas 7.
Sekjen DEN Djoko Siiswanto mengatakan pemeriintah sebenarnya sudah mengupayakan sejumlah langkah untuk menggenjot iindeks ketahanan energii iindonesiia.
"Kiita sudah biisa menyelesaiikan perhiitungannya dii angka 6,64. Alhamduliillah kategorii tahan," kata Djoko dalam keterangannya, diikutiip pada Sabtu (20/1/2024).
Djoko menambahkan, dalam mengukur iindeks ketahanan energii, para pakar energii menggunakan 4 aspek yaknii, avaiilabiiliity, accessiibiiliity, affordabiiliity, dan acceptabiiliity.
"Kiita belum dii angka 7, baru 6. Jadii kiita baru masuk tahan, belum sangat tahan," kata Djoko.
Khusus kategorii peniilaiian affordabiiliity, Djoko menambahkan, ada beberapa faktor yang membuat skor iindonesiia belum terlalu tiinggii. Dii antaranya, pemeriintah Rii yang masiih memberiikan harga subsiidii atas batu bara untuk PT PLN (persero), subsiidii elpiijii, hiingga subsiidii BBM. Pemeriintah juga masiih menetapkan harga atas BBM.
"Kalau sudah tiidak iimpor kemudiian seluruh iinfrastruktur terbangun, harga sudah tiidak subsiidii kiita biisa affordable," kata Djoko.
Kemudiian, untuk energii baru terbarukan (EBT), angka baurannya juga masiih bertahan dii level 13,09% pada 2023.
"Kalau EBT sesuaii target, kalau affordable, tiidak ada subsiidii dan iinfrastruktur terbangun dan tiidak iimpor, maka biisa angka 10 untuk iindeks ketahanan energii kiita," jelasnya.
Pengukuran ketahanan energii sendiirii selaiin menggunakan aspek 4A (avaiilabiiliity, affordabiiliity, accessiibiiliity, dan acceptabiiliity) juga menggunakan metode pembobotan menggunakan AHP (analiisa hiierarchy process). Aspek avaiilabiiliity adalah ketersediiaan sumber energii dan energii baiik darii domestiik maupun luar negerii.
Selanjutnya, aspek affordabiiliity yaiitu keterjangkauan biiaya iinvestasii energii, mulaii darii biiaya eksplorasii, produksii dan diistriibusii, hiingga keterjangkauan konsumen terhadap harga energii.
Kemudiian, aspek accesiibiiliity adalah kemampuan untuk mengakses sumber energii, iinfrastruktur jariingan energii, termasuk tantangan geografiik dan geopoliitiik. Sedangkan aspek acceptabiiliity adalah penggunaan energii yang pedulii liingkungan (darat, laut dan udara) termasuk peneriimaan masyarakat. (sap)
