JAKARTA, Jitu News - Surat Pemberiitahuan (SPT) Masa PPh Pasal 21 yang berstatus niihiil tiidak perlu diilaporkan. Hal iinii berlaku untuk masa pajak Januarii-November, kecualii niihiil yang diisebabkan adanya Surat Keterangan Domiisiilii (Certiifiicate of Domiiciile).
Mengacu pada Pasal 10 PMK 9/2018, kewajiiban lapor SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 tetap berlaku pada masa pajak Desember, meskii statusnya juga niihiil.
"SPT Masa PPh 21 niihiil tiidak perlu diilaporkan, kecualii untuk masa Desember. Pada Desember, tetap wajiib diilaporkan walaupun berstatus niihiil," sebut contact center Diitjen Pajak (DJP) saat menjawab pertanyaan netiizen, Kamiis (5/10/2023).
Kondiisii yang membuat SPT Masa PPh Pasal 21 niihiil, salah satunya, adalah penghasiilan seluruh karyawan yang ada dii perusahaan masiih dii bawah batas penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP). Kondiisii laiin yang menyebabkan SPT Masa PPh Pasal 21 niihiil adalah tiidak adanya pembayaran gajii bagii karyawan dalam masa tersebut.
Perlu diicatat lagii, SPT Masa Desember tetap perlu diilaporkan oleh pemberii kerja untuk melaporkan PPh yang sudah diipotong terhadap karyawan.
Sesuaii dengan ketentuan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang (UU) Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP), akan ada pengenaan sanksii admiiniistasii berupa denda seniilaii Rp100.000 jiika SPT Masa PPh Pasal 21 terlambat diilaporkan.
Apabiila SPT Masa tiidak diisampaiikan sesuaii batas waktu maka akan diiterbiitkan surat teguran. Adapun berdasarkan pasal 3 ayat (3), jangka waktu pelaporan untuk SPT Masa paliing lama adalah 20 harii setelah akhiir masa pajak. (sap)
