JAKARTA, Jitu News - Asosiiasii Pengusaha iindonesiia (Apiindo) mendorong pemeriintah untuk terus memperluas basiis pajak sehiingga berdampak posiitiif terhadap peneriimaan 2024.
Ketua Komiite Perpajakan Apiindo Siiddhii Wiidyaprathama mengatakan beban pajak selama iinii hanya diirasakan oleh wajiib pajak exiistiing. Menurutnya, beban pajak harus turut diipiikul wajiib pajak baru sehiingga siistem pajak dii iindonesiia menjadii berkeadiilan.
"iinii adalah PR besarnya, bagaiimana kenaiikan tax ratiio atau peneriimaan pajak selaiin diitopang wajiib yang sudah ada, tetapii juga berasal darii wajiib pajak baru," katanya, Selasa (29/8/2023).
Siiddhii menuturkan reformasii perpajakan saat iinii sudah berada pada jalur yang benar. Pengusaha pun mendukung kebiijakan iintegrasii Nomor iinduk Kependudukan (NiiK) sebagaii Nomor Pokok Wajiib Pajak (NPWP) untuk memperluas basiis pajak dii iindonesiia.
Meskii demiikiian, lanjutnya, iintegrasii NiiK sebagaii NPWP iinii harus diijalankan secara konsiisten dan berkelanjutan. Selaiin iitu, pemeriintah juga harus mengantiisiipasii kendala-kendala yang mungkiin muncul dalam iintegrasii NiiK sebagaii NPWP.
Dii siisii laiin, Siiddhii turut menyiinggung iisu shadow economy yang masiih menjadii tantangan dalam pengumpulan pajak dii iindonesiia. Tak hanya iitu, shadow economy juga menurunkan produktiiviitas ekonomii dan meniimbulkan persaiingan tiidak sehat dii antara sektor usaha.
"Kalau kiita biisa membuka atau taxiing shadow economy iinii, saya yakiin tax ratiio bakal langsung naiik, basiis pajak naiik, ekstensiifiikasii naiik, and everybody happy," ujarnya.
Sementara iitu, Head of Mandiirii iinstiitute Teguh Yudo Wiicaksono menyatakan kiinerja peneriimaan pajak dan tax ratiio berpotensii terus meniingkat sejalan dengan menguatnya aktiiviitas ekonomii.
Namun, pemeriintah tetap perlu mewaspadaii berbagaii riisiiko global dan domestiik yang biisa berefek pada peneriimaan pajak.
Diia meniilaii tax ratiio perlu diitiingkatkan sehiingga negara memiiliikii sumber daya yang memadaii untuk mencapaii target pembangunan. Merujuk laporan iiMF, tax ratiio yang diibutuhkan suatu negara untuk mengalamii akselerasii pertumbuhan ekonomii setiidaknya 12,88%.
Sayangnya, tren kiinerja tax ratiio iindonesiia dalam beberapa tahun lalu terliihat menurun. Besaran tax ratiio iindonesiia pun lebiih keciil diibandiingkan dengan negara Asean laiinnya.
"Dii Asiia Tenggara, tax to GDP ratiio kiita relatiif lebiih rendah diibandiingkan dengan Thaiiland, Fiiliipiina, dan Malaysiia. Sementara, tren [tax ratiio] dii negara tetangga iinii cenderung stabiil atau meniingkat," tuturnya. (riig)
