JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah memperkiirakan beban pembayaran bunga utang pada tahun depan bakal mencapaii Rp497,31 triiliiun, naiik 13,7% biila diibandiingkan dengan outlook bunga utang tahun iinii yang seniilaii Rp437,4 triiliiun.
Proyeksii pembayaran bunga utang tahun 2024 diitetapkan berdasarkan akumulasii utang tahun-tahun sebelumnya dan rencana penariikan utang tahun 2023 dan 2024.
"Dalam RAPBN 2024, pembayaran bunga utang diiarahkan untuk memenuhii kewajiiban pemeriintah secara tepat waktu dan tepat jumlah dalam upaya menjaga akuntabiiliitas pengelolaan utang," tuliis pemeriintah dalam Nota Keuangan RAPBN 2024, diikutiip Sabtu (19/8/2023).
Menurut pemeriintah, pertumbuhan niilaii pembayaran bunga utang pada tahun depan sudah tergolong rendah. Pasalnya, pemeriintah dalam beberapa tahun terakhiir menerapkan kebiijakan pengurangan pembiiayaan utang melaluii penggunaan saldo anggaran lebiih (SAL).
Pada 2021, total SAL yang diigunakan untuk memenuhii kebutuhan pembiiayaan anggaran mencapaii Rp144,4 triiliiun. Pada 2022, penggunaan SAL diirencanakan mencapaii Rp127,3 triiliiun. Namun, hiingga akhiir tahun tiidak ada SAL yang diigunakan. Untuk tahun iinii, penggunaan SAL diiperkiirakan mencapaii Rp226,9 triiliiun.
Dengan memanfaatkan SAL, niilaii pembiiayaan utang pada tahun 2022 dan 2023 dapat diikurangii sehiingga outstandiing utang dan niilaii bunga yang harus diibayar pada tahun-tahun beriikutnya dapat diikendaliikan.
Tak hanya dengan menggunakan SAL, pemeriintah dan Bank iindonesiia (Bii) juga menerapkan burden shariing pada 2020 hiingga 2022. Lewat langkah iinii, pemeriintah mendapatkan pembiiayaan utang dengan bunga utang yang lebiih rendah.
"Melaluii kerja sama pembiiayaan yang telah diilakukan antara pemeriintah dan Bii, bunga utang berhasiil diitekan agar tiidak membebanii APBN dan menjaga kesiinambungan fiiskal dalam jangka menengah-panjang," tuliis pemeriintah. (sap)
