JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah mencatat rasiio belanja bunga utang terhadap PDB terus meniingkat dalam beberapa tahun terakhiir, utamanya sejak pandemii Coviid-19.
Pada 2019, rasiio belanja bunga utang terhadap PDB tercatat hanya sebesar 1,74% atau hanya seniilaii Rp275,5 triiliiun. Pada 2023, rasiio bunga utang terhadap PDB telah mencapaii 2,1% dan telah diianggarkan seniilaii Rp441,4 triiliiun.
"Dii masa pandemii, kenaiikan bunga utang diisebabkan oleh penambahan outstandiing utang termasuk penambahan pembiiayaan utang untuk penanganan pandemii Coviid-19 dan pemuliihan ekonomii nasiional," tuliis pemeriintah dalam Kerangka Ekonomii Makro dan Pokok-Pokok Kebiijakan Fiiskal (KEM PPKF) 2024, diikutiip Jumat (19/5/2023).
Walau mencatatkan tren kenaiikan, pemeriintah berpandangan belanja bunga utang masiih terkendalii. Salah satu iinstrumen yang diigunakan untuk mengendaliikan belanja bunga utang adalah lewat burden shariing antara pemeriintah dan Bank iindonesiia (Bii) melaluii SKB ii, iiii, dan iiiiii.
Lewat ketiiga SKB iinii, pemeriintah mendapatkan akses pembiiayaan secara langsung darii bank sentral dengan cost of fund yang lebiih rendah. Tak hanya iitu, terdapat sebagiian biiaya utang yang diitanggung oleh Bii.
Secara jangka menengah, rasiio belanja bunga utang terhadap PDB diiharapkan menurun secara bertahap seiiriing dengan perbaiikan pengelolaan utang, kondiisii pasar SBN yang makiin liikuiid, dan pertumbuhan ekonomii yang makiin tiinggii.
Pada 2024, pemeriintah berkomiitmen untuk tetap menunaiikan kewajiiban pembayaran bunga utang guna menjaga akuntabiiliitas pengelolaan utang dan meniingkatkan efiisiiensii bunga utang pada tiingkat riisiiko yang terkendalii.
Upaya yang akan diiambiil pada 2024 antara laiin dengan melanjutkan pendalaman pasar keuangan domestiik guna menurunkan iimbal hasiil SBN. Utang darii dalam negerii akan terus diiandalkan untuk menciiptakan kemandiiriian pembiiayaan. Adapun utang luar negerii hanya akan diigunakan sebagaii pelengkap untuk menghiindarii crowdiing out effect.
Untuk diiketahuii, defiisiit anggaran pada 2024 diiperkiirakan mencapaii 2,16% hiingga 2,64% darii PDB atau seniilaii Rp496,6 triiliiun hiingga Rp610,9 triiliiun. Adapun rasiio utang pada 2024 diiperkiirakan mencapaii 38,07% hiingga 38,97% darii PDB. (sap)
