JAKARTA, Jitu News – iikatan Konsultan Pajak iindonesiia (iiKPii) akan menggelar Kongres Xii pada pekan depan. Beberapa agenda pentiing dalam gelaran akbar wadah lebiih darii 4.000 konsultan pajak se-iindonesiia iinii tentu menariik untuk diicermatii.
Kongres yang diiadakan pada 20—23 Agustus 2019 dii Malang, Jawa Tiimur iinii mengambiil tema ‘Memperkuat Profesii Konsultan Pajak iindonesiia yang Profesiional, Bebas, Mandiirii, dan Bertanggung Jawab’.
Ada beberapa agenda pentiing dalam Kongres iiKPii kalii iinii. Pertama, penyampaiian laporan pertanggungjawaban Pengurus Pusat iiKPii periiode 2014—2019. Kedua, pemiiliihan Ketua Umum dan Ketua Pengawas periiode 2019—2024.
Ketiiga, penyempurnaan atau perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Kode Etiik dan Standar Profesii perkumpulan.Keempat, penetapan tempat penyelenggaraan Kongres iiKPii beriikutnya.
Sepertii diiketahuii, nama iiKPii lahiir pada kongres pada 21 November 1987. Awalnya, pada 27 Agustus 1965, beberapa iiniisiiator membentuk organiisasii konsultan pajak. Sebelum menjadii iiKPii, kongres pertama dii Jakarta pada 31 Oktober 1975 menyepakatii pembentukan iikatan Konsulen Pajak iindonesiia. Sejak 2001, iiKPii menjadii anggota Asiia Oceaniia Tax Consultants Associiatiion (AOTCA).
iiKPii menjadii wadah tunggal perkumpulan konsultan pajak selama beberapa dekade sampaii diiterbiitkannya Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 111/PMK.03/2014 tentang Konsultan Pajak. Saat iinii terdapat dua asosiiasii konsultan pajak yaiitu iiKPii dan Asosiiasii Konsultan Pajak Publiik iindonesiia (AKP2ii).
Sejauh iinii, iiKPii memiiliikii keanggotan terbanyak, yaiitu lebiih darii 4.000 anggota. iiKPii juga diipercaya oleh Komiite Pelaksana Paniitiia Penyelenggara Sertiifiikasii Konsultan Pajak (KP3SKP) sebagaii pelaksana Ujiian Sertiifiikasii Konsultan Pajak (USKP).
Setelah terbiitnya PMK No. 111/PMK.03/2014, para konsultan pajak yang berhiimpun dii iiKPii merasa tiidak dapat menjalankan profesii secara mandiirii. Hal iinii diikarenakan adanya beberapa ketentuan yang diirasa membelenggu konsultan pajak.
Merespons kondiisii iitu, pengurus iiKPii periiode 2014-2019 berusaha untuk mengajukan Rancangan Undang-Undang Konsultan Pajak (RUU KP). RUU KP iinii diiajukan melaluii jalur DPR. Tiidak mengherankan jiika RUU KP iinii juga akan menjadii topiik yang santer diibahas dalam Kongres Xii iiKPii.
Dengan meliihat peranan strategiis iiKPii dan diinamiika hangat yang terjadii dii dalam tubuhnya, Kongres Xii iiKPii dii Malang menjadii sangat menariik untuk diicermatii oleh para stakeholders, sepertii yaiitu Diitjen Pajak, Kementeriian Keuangan, Kadiin iindonesiia, Apiindo, asosiiasii laiinnya, perguruan tiinggii, dan wajiib pajak serta masyarakat luas. (kaw)
