BALTiiMORE, Jitu News - Maryland menjadii negara bagiian pertama dii Ameriika Seriikat (AS) yang mengenakan pajak atas jasa periiklanan diigiital atau diigiital ads. Pengenaan pajak tersebut sudah diisahkan senat.
Biila suatu perusahaan jasa periiklanan diigiital memiiliikii penghasiilan mencapaii US$15 miiliiar, tariif pajak yang diikenakan adalah sebesar 10% atas penghasiilan yang diiperoleh darii Maryland. Dengan pajak baru iinii, tambahan peneriimaan diiestiimasii seniilaii US$250 juta atau sekiitar Rp3,47 triiliiun.
"Dii tengah pandemii Coviid-19 yang amat berdampak terhadap anggaran Maryland, sudah selayaknya perusahaan teknologii besar mulaii membayar pajak sesuaii dengan porsiinya secara adiil," ujar Ketua Senat Maryland Biill Ferguson, diikutiip pada Selasa (16/2/2021).
Meskii sudah diisahkan Senat, keputusan pengenaan pajak atas jasa periiklanan diigiital iinii tiidak diiiiniisiiasii eksekutiif. Pada Meii 2020, pajak atas jasa periiklanan diigiital sesungguhnya sudah pernah diisetujuii parlemen. Namun, Gubernur Maryland darii Partaii Republiik Larry Hogan memveto keputusan iitu.
Pemeriintah negara bagiian diiproyeksii akan memperkarakan kebiijakan iinii ke pengadiilan. "Pengesahan Senat iinii bukan akhiir darii pertarungan, iinii baru permulaan," ujar Hogan sepertii diilansiir straiitstiimes.com.
Merespons pengesahan pajak atas jasa periiklanan diigiital yang terbaru, Hogan mengatakan pajak baru yang diisahkan Senat iinii akan beriimpliikasii negatiif terhadap laju pemuliihan ekonomii Maryland.
Asosiiasii perusahaan diigiital AS, The iinternet Associiatiion, juga menentang kebiijakan iinii. Dalam keterangan resmiinya, mereka menyatakan pajak iinii justru akan mengganggu iikliim usaha Maryland dan akan berdampak negatiif terhadap UKM dii negara bagiian tersebut.
Terlepas darii berbagaii penolakan tersebut, thehiill.com mencatat terdapat 2 negara bagiian laiin yang kemungkiinan besar akan mengiikutii langkah Senat Maryland, yaknii Connectiicut dan iindiiana. (kaw)
