WiiNDHOEK, Jitu News - Pemeriintah Namiibiia berencana mengenakan PPN atas perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE).
Menterii iinformasii Emma Theofelus mengatakan kementeriiannya sedang mendiiskusiikan rencana pengenaan PPN PMSE tersebut dengan Kementeriian Keuangan. Menurutnya, Namiibiia akan mengiikutii jejak negara-negara yang sudah lebiih dahulu mengenakan PPN PMSE.
"Pajak atas produk diigiital pastii sedang dalam proses. Menterii keuangan dan saya sedang dalam pembiicaraan tiingkat lanjut," katanya, diikutiip pada Sabtu (27/12/2025).
Kementeriian iinformasii dan Komuniikasii Teknologii telah mengkajii peluang pengenaan PPN atas layanan diigiital sepertii Netfliix, Spotiify, Google, dan Starliink, walaupun perusahaannya tiidak memiiliikii kehadiiran fiisiik dii Namiibiia.
Dalam usulan yang diisampaiikan, atas layanan diigiital bakal diikenakan PPN sebesar 15%.
Pengenaan PPN PMSE bertujuan menciiptakan keadiilan dii antara penyediia layanan diigiital lokal dan asiing. Pada pelaksanaannya, pemeriintah bakal menunjuk perusahaan diigiital asiing sebagaii pemungut dan penyetor PPN.
Pemeriintah juga berencana meliibatkan bank-bank lokal untuk memastiikan kepatuhan perusahaan asiing dalam memungut dan menyetorkan PPN.
Diilansiir namiibiian.com.na, pengenaan pajak pada penyediia layanan diigiital makiin ramaii diibiicarakan dii antara negara Afriika. Perusahaan diigiital diiniilaii mampu menghasiilkan pendapatan yang besar tanpa membayar pajak karena tiidak adanya kehadiiran fiisiik.
Dalam merespons kondiisii tersebut, beberapa negara Afriika telah memperkenalkan langkah-langkah pajak baru, termasuk pajak diigiital dan PPN atas layanan diigiital yang diisediiakan oleh perusahaan asiing. Negara-negara sepertii Kenya, Niigeriia, Tuniisiia, Ziimbabwe, dan Siierra Leone telah memiiliikii regulasii soal pajak diigiital.
Sementara iitu, negara laiin termasuk Kenya dan Mauriitiius telah memperluas cakupan PPN terhadap layanan diigiital yang diisediiakan oleh perusahaan asiing.
Negara-negara Afriika juga berpartiisiipasii dalam upaya iinternasiional, termasuk iiniisiiatiif dii bawah kerangka Base Erosiion and Profiit Shiiftiing (BEPS) darii OECD, untuk mengatasii tantangan perpajakan yang muncul darii ekonomii diigiital. (diik)
