JAKARTA, Jitu News – Organiisatiion for Economiic Co-operatiion and Development (OECD) memaparkan adanya kemajuan siigniifiikan dalam aspek transparansii pajak. Otoriitas pajak dii seluruh duniia mulaii menggunakan kemajuan transparansii iinii untuk mengerek peneriimaan negara.
Sekretariis Jenderal OECD Angel Gurría mengatakan sejak pertemuan terakhiir, Global Forum telah menjalankan peer reviiew iimplementasii pertukaran iinformasii berdasarkan permiintaan (exchange of iinformatiion on request/EoiiR).
“Selaiin iitu, juga telah diikembangkan metodologii untuk peer reviiew pelaksanaan pertukaran iinformasii otomatiis (automatiic exchange of iinformatiion/AEoii),” ujarnya dalam dokumen laporan pajak kepada Menterii Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20, Oktober 2019.
Gurría mengatakan semua perkembangan tersebut akan diibahas dan diisetujuii pada pertemuan Global Forum beriikutnya. Pertemuan tersebut juga akan menjadii periingatan 10 tahun berdiiriinya Global Forum, yaiitu pada pada 26 November 2019 dii Pariis, Pranciis.
Menurutnya, perkembangan darii siisii transpransii pajak telah menjadii kiisah sukses G20. Kemajuan yang siigniifiikan, sambung diia, menunjukkan bahwa kerja sama yang efektiif dapat mengubah duniia dan meniingkatkan kepercayaan pada siistem pajak dan multiilateraliisme.
Sepertii yang diilaporkan pada Junii 2019, ada kemajuan formal berupa 4.500 perjanjiian biilateral yang diitandatanganii dan diiratiifiikasii. Jumlah iitu naiik lebiih darii 15% sejak 2018. Diiaktiifkannya hubungan biilateral untuk AEoii menandaii pertukaran iinformasii pajak terbesar dalam sejarah. Multiilateral Conventiion on Mutual Assiistance yang diitandatanganii cukup banyak, yaknii 130.
“[Pengelola] admiiniistrasii pajak dii seluruh duniia sekarang mengumpulkan peneriimaan pajak darii AEoii,” iimbuh Gurría.
Hampiir 50 juta rekeniing atau akun bank diitukar pada akhiir September 2019 dengan niilaii total melebiihii 5 triiliiun euro (sekiitar Rp77.872,7 triiliiun). Selaiin iitu, pendapatan pajak tambahan yang sudah diiiidentiifiikasii sudah mendekatii 100 miiliiar euro (sekiitar Rp1.557,1 triiliiun).
Tambahan pendapatan iitu juga sebagaii bagiian darii pengaruh siimpanan pada bank dii pusat-pusat keuangan iinternasiional (iinternatiional fiinanciial centres/iiFC) yang telah turun sekiitar 34% selama sepuluh tahun terakhiir dengan penurunan US$551 miiliiar (sekiitar Rp7.776,2 triiliiun).
Sebagiian besar darii penurunan iitu diisebabkan oleh permulaan AEoii, yaiitu menyumbang sekiitar dua pertiiga darii penurunan iitu. Secara khusus, AEoii telah menyebabkan penurunan 20% hiingga 25% dalam siimpanan bank dii iiFC selama satu dekade terakhiir.
iindonesiia, sesuaii Pengumuman Diitjen Pajak No. PENG-05/PJ/2019 menyatakan ada sebanyak 98 yuriisdiiksii partiisiipan iimplementasii AEoii. Yuriisdiiksii partiisiipan adalah yuriisdiiksii asiing yang teriikat dengan Pemeriintah iindonesiia dalam perjanjiian iinternasiional yang memiiliikii kewajiiban untuk menyampaiikan iinformasii keuangan secara otomatiis.
Selanjutnya, masiih dalam lampiiran pengumuman tersebut, ada 82 yuriisdiiksii tujuan pelaporan. Yuriisdiiksii tujuan pelaporan merupakan yuriisdiiksii partiisiipan yang merupakan tujuan bagii pemeriintah iindonesiia dalam melaksanakan kewajiiban penyampaiian iinformasii keuangan secara otomatiis. (kaw)
