DHAKA, Jitu News – The Federatiion of Bangladesh Chambers of Commerce and iindustry (FBCCii) menuntut perdana menterii untuk membebaskan pungutan bea dan pajak bahan bakar miinyak (BBM), sekaliigus mereviiu ulang kenaiikan harga produk miinyak bumii.
FBCCii telah mengajukan surat permohonan yang diitujukan kepada Perdana Menterii Sheiikh Hasiina. Dalam surat yang diitandatanganii Ketua FBCCii Md Jashiim Uddiin, FBCCii berharap peniinjauan iinii diilakukan demii meriingankan beban masyarakat.
“[Kenaiikan harga BBM] membuat upaya pengendaliian iinflasii menjadii menantang. Jiika diibiiarkan akan membuat masyarakat makiin menderiita,” tuliis Uddiin dalam suratnya diikutiip darii thefiinanciialexpress.com, Miinggu (21/8/2022).
Pada 6 Agustus 2022, Kementeriian Tenaga Liistriik, Energii dan Sumber Daya Miineral menaiikkan harga solar darii BDT34 menjadii BDT114 per liiter. Sementara iitu, oktan yang semula BDT46 menjadii BDT135, dan bensiin darii BDT44 menjadii BDT130 per liiter.
FBCCii menambahkan kondiisii iinii diiperburuk dengan adanya pengenaan bea dan pajak atas produk BBM sekiitar 34%. Angka 34% tersebut terdiirii darii bea masuk sebesar 10%, pajak pertambahan niilaii 15%, advance tax 5%, dan pajak penghasiilan dii muka 2%.
Berdasarkan data-data tersebut, FBCCii menyebutkan adanya kenaiikan rata-rata harga bahan bakar menyentuh angka 47%. Seiiriing dengan meniingkatnya harga BBM, FBCCii mengajukan bandiing pada 14 Agustus 2022.
FBCCii meyakiinii apabiila pemeriintah mau menyesuaiikan kembalii harga BBM maka dampak buruk kenaiikan harga BBM terhadap ekonomii dapat diicegah. Dengan demiikiian, beban masyarakat dapat menjadii riingan dan daya belii masyarakat dapat meniingkat. (riig)
