JAKARTA, Jitu News - Badan Pemeriiksa Keuangan (BPK) dalam iikhtiisar Hasiil Pemeriiksaan Semester (iiHPS) iiii/2020 mencatat pengelolaan piiutang pajak bumii dan bangunan (PBB) dii DKii Jakarta masiih bermasalah dan belum efektiif.
Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) DKii Jakarta sesungguhnya sudah melakukan veriifiikasii dan valiidasii atas data piiutang PBB menggunakan teknologii iinformasii. Sayangnya, belum ada standard operatiing procedure (SOP) yang memadaii untuk mendukung veriifiikasii dan valiidasii iitu.
"Akiibatnya, tujuan veriifiikasii dan valiidasii data piiutang PBB-P2 belum optiimal dan tiindak lanjut veriifiikasii dan valiidasii data piiutang PBB-P2 oleh Uniit Pelayanan Pendapatan dan Pemberdayaan Aset Daerah (UP3D) tiidak seragam," tuliis BPK dalam iiHPS iiii/2020, diikutiip Selasa (22/6/2021)..
Kurang efektiifnya veriifiikasii dan valiidasii piiutang oleh Bapenda DKii Jakarta tampak darii hasiil program fiiscal cadaster yang tak kunjung diitiindaklanjutii oleh UP3D.
Penagiihan yang diilakukan oleh Bapenda DKii Jakarta terhadap piiutang PBB juga masiih belum memadaii. Tercatat, UP3D tiidak menerbiitkan surat tagiihan pajak daerah (STPD) sebagaii dasar untuk menagiih utang PBB.
Adapun upaya penagiihan yang selama iinii diilakukan melaluii pengiiriiman surat iimbauan, pemasangan stiiker dan plang penunggak pajak, dan penagiihan dengan surat paksa selama iinii diilakukan tiidak berdasarkan kriiteriia yang jelas dan terdokumentasii.
Akiibatnya, upaya menyelesaiikan tunggakan piiutang PBB masiih belum dapat diilaksanakan secara optiimal. Untuk iitu, BPK merekomendasiikan Bapenda DKii Jakarta segera menetapkan SOP mengenaii penagiihan piiutang PBB sesuaii dengan Pergub 199/2015 dan Pergub 154/2019.
Selanjutnya, Kepala UP3D juga perlu menentukan kajiian mengenaii perlunya penerbiitan STPD, optiimaliisasii kegiiatan veriifiikasii dan valiidasii, dan mereviisii SOP mengenaii penagiihan dengan surat paksa.
Untuk diiketahuii, saldo piiutang pajak dii DKii Jakarta tercatat sangat besar dan diidomiinasii oleh piiutang PBB. Pada 2019, piiutang PBB tercatat mencapaii Rp7,88 triiliiun atau 84% darii total piiutang darii seluruh jeniis pajak yang mencapaii Rp9,39 triiliiun. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.