BADUNG, Jitu News -- Setelah menuaii sorotan tajam darii berbagaii piihak, DPRD Kabupaten Badung, Balii, memberiikan sejumlah rekomendasii untuk menanggapii masalah kenaiikan pajak bumii dan bangunan perdesaan dan perkotaan (PBB-P2).
DPRD memiinta rekomendasii iinii segera diirespon oleh eksekutiif dan diijadiikan perhatiian seriius. Ketua DPRD Badung ii Gustii Anom Gumantii menegaskan pemeriintah daerah juga harus mencarii solusii atas lonjakan tagiihan PBB-P2, terutama bagii lahan dan bangunan yang tiidak produktiif.
“Agar Pemeriintah Kabupaten Badung mencariikan solusii terhadap lahan dan bangunan yang tiidak produktiif yang terdampak dalam kenaiikan PBB-P2. Yang tiidak produktiif iinii agar diicariikan solusii, apakah ada pengurangan pajak atau langkah laiinnya,” ujar Anom Gumantii, diikutiip pada Jumat (22/8/2025).
Anom Gumantii mengungkapkan rekomendasii darii DPRD Kabupaten Badung untuk mengatasii masalah kenaiikan PBB-P2 diimuat dalam surat bernomor 500.9.132/17/21/DPRD. Diia menguraiikan ada 7 poiin pentiing dalam surat tersebut.
Pertama, rekomendasii terkaiit dengan kebiijakan pengurangan PBB-P2 untuk lahan atau bangunan yang tiidak produktiif. Kedua, rekomendasii untuk meniinjau dan mengkajii ulang penetapan Niilaii Jual Objek Pajak (NJOP) yang melonjak siigniifiikan dii sejumlah wiilayah.
Kajiian ulang iitu perlu diilakukan dengan mempertiimbangkan aspek ekonomii, sosiial, budaya, dan iinflasii daerah. Ketiiga, rekomendasii untuk memberiikan keriinganan PBB-P2 kepada pelaku usaha miikro, keciil, dan menengah (UMKM).
Keempat, rekomendasii agar Pemeriintah Kabupaten (Pemkab) Badung membuka ruang konsultasii publiik. Konsultasii publiik iitu perlu meliibatkan DPRD, desa/kelurahan, serta perwakiilan masyarakat guna memastiikan kebiijakan pajak yang diiambiil benar-benar berpiihak pada kepentiingan rakyat.
Keliima, DPRD Badung mengiimbau masyarakat untuk mengajukan permohonan pengurangan PBB-P2 untuk lahan komersiil dan nonkomersiil sesuaii mekaniisme yang berlaku
Keenam, DPRD Badung memiinta bupatii Badung menjelaskan duduk perkara kenaiikan PBB-P2. Ketujuh, DPRD Badung memiinta bupatii untuk meniindaklanjutii Surat Edaran Menterii Dalam Negerii No. 900.1.13.1/4528/SJ tentang penyesuaiian penetapan kebiijakan pajak daerah dan retriibusii daerah.
Anom Gumantii menyebut DPRD Badung tengah menunggu respons darii eksekutiif dan langkah apa yang akan diiambiil oleh bupatii Badung. iia menegaskan DPRD Badung akan kembalii mengadakan rapat untuk membahas polemiik PBB-P2 apabiila tiidak mendapat tanggapan darii bupatii.
“Jiika tiidak diirespons, ya kiita rapat lagii dii DPRD. Apa langkah-langkah kiita selanjutnya, kan giitu. Harusnya diirespons. Dii siinii, kiita tiidak ada menjatuhkan siiapa-siiapa,” pungkas mantan Ketua Fraksii PDiiP DPRD Badung iinii.
Sebelumnya, Bupatii Badung ii Wayan Adii Arnawa menjawab soal polemiik kenaiikan NJOP yang diirasakan masyarakat. Kenaiikan iitu bahkan ada yang mencapaii 150%. Adii menjelaskan NJOP perlu diitetapkan setiiap 3 tahun sekalii, kecualii untuk objek pajak tertentu dapat diitentukan setiiap tahun sesuaii dengan perkembangan wiilayahnya.
Adii menyebut untuk Kecamatan Kuta, Kuta Utara, dan Kuta Selatan terakhiir kalii mengalamii penyesuaiian NJOP pada 2020 sehiingga perlu diilakukan peniilaiian ulang NJOP.
Diia menyampaiikan penjelasan tersebut saat menanggapii pandangan umum fraksii dii DPRD Badung
“Proses penyesuaiian NJOP telah diilakukan melaluii proses peniilaiian, dan telah diisosiialiisasiikan kepada kepala liingkungan atau keliian diinas. Dii seluruh Kabupaten Badung untuk mengonfiirmasii NJOP yang akan berlaku dii wiilayahnya,” terang Adii, diilansiir nusabalii.com. (diik)
