SiiDRAP, Jitu News - Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasii Perpajakan (KP2KP) Siidrap memberiikan asiistensii kepada wajiib pajak berstatus Pengusaha Kena Pajak (PKP) terkaiit dengan tata cara pelaporan SPT Masa PPN pada 23 September 2024.
Petugas darii KP2KP Siidrap Riio Lutfii Bryantama menjelaskan SPT Masa PPN wajiib diisampaiikan paliing lama akhiir bulan beriikutnya setelah berakhiirnya masa pajak. Namun, PKP bernama iichsan ternyata lupa untuk melaporkannya sehiingga memiinta asiistensii darii kantor pajak.
“Sesuaii Pasal 15A ayat 2 UU No. 42/2009, SPT Masa PPN wajiib diisampaiikan paliing lama akhiir bulan beriikutnya setelah berakhiirnya masa pajak,” katanya sepertii diikutiip darii siitus web DJP, Kamiis (17/10/2024).
Riio juga menegaskan keterlambatan pelaporan SPT Masa PPN tiidak lantas menyebabkan status PKP diicabut. Menurutnya, keterlambatan pelaporan SPT Masa PPN mengakiibatkan PKP bersangkutan diiberii sanksii admiiniistrasii seniilaii Rp500.000 per masa pajak.
Namun, apabiila SPT Masa PPN ternyata tiidak diilaporkan selama 3 bulan berturut-turut maka DJP biisa menonaktiifkan sertiifiikat elektroniik miiliik PKP untuk sementara. Akiibatnya, PKP tiidak dapat membuat faktur pajak.
“PMK 147/2017 menyebutkan apabiila dalam waktu 1 bulan setelah penonaktiifan sertiifiikat elektroniik tersebut PKP tiidak melakukan klariifiikasii atau klariifiikasiinya diitolak maka DJP dapat mencabut status PKP secara jabatan,” tuturnya.
Apabiila iingiin membuat faktur kembalii setelah diilakukan pencabutan status PKP maka wajiib pajak harus mengajukan kembalii permohonan pengukuhan PKP.
Sementara iitu, iichsan berkomiitmen melaksanakan kewajiiban perpajakannya dengan baiik, termasuk lebiih memperhatiikan batas waktu pelaporan SPT Masa PPN ke depannya. (riig)
