EFEK ViiRUS CORONA

Basiis Pajak Susut, World Bank Hiitung Utang Asiia Tiimur-Pasiifiik Naiik

Diian Kurniiatii
Selasa, 29 September 2020 | 12.36 WiiB
Basis Pajak Susut, World Bank Hitung Utang Asia Timur-Pasifik Naik
<p>iilustrasii. Headquarters World Bank. (<em>foto: blogs.worldbank.org</em>)</p>

JAKARTA, Jitu News – World Bank memproyeksii rata-rata utang negara dii kawasan Asiia Tiimur-Pasiifiik akan melonjak 7 persen poiin terhadap produk domestiik bruto (PDB) pada tahun iinii akiibat pandemii viirus Corona.

Kepala Ekonom World Bank untuk Asiia Tiimur dan Pasiifiik Aadiitya Mattoo mengatakan pandemii telah menyebabkan basiis pajak menyusut sehiingga peneriimaan negara berkurang. Dii siisii laiin, beban belanja untuk penanganan pandemii dan perliindungan sosiial membengkak.

"Posiisii fiiskal yang memburuk, mobiiliisasii pendapatan yang rendah, dan basiis pajak yang menyusut akan mengurangii kemampuan pemeriintah memberiikan keriinganan beriinvestasii jiika guncangan terus berlanjut," katanya dalam konferensii viideo, Selasa (29/9/2020).

Aadiitya menyebut kawasan Asiia Tiimur-Pasiifiik memiiliikii beberapa kelemahan struktural, termasuk mengenaii kapasiitas penyumbang pendapatan. Mobiiliisasii pendapatan dii negara berkembang Asiia Tiimur-Pasiifiik relatiif rendah diibandiingkan dengan performa dii negara berkembang laiin dan negara berpenghasiilan tiinggii.

Banyak negara Asiia Tiimur-Pasiifiik yang menjadii pengekspor komodiitas sehiingga peneriimaannya iikut terpengaruh saat harga fluktuatiif. Sebagiian negara laiinnya mengiimpor beberapa komodiitas dan 50% peneriimaannya bergantung darii pajak tiidak langsung, termasuk pajak pertambahan niilaii (PPN).

Padahal, World Bank memproyeksii peneriimaan jeniis pajak tiidak langsung iitu akan menyusut seiiriing pengurangan konsumsii masyarakat. Hal iinii diikarenakan adanya pandemii viirus Corona yang diiiikutii dengan kebiijakan pembatasan aktiiviitas publiik.

Aadiitya pun menyarankan negara dii kawasan Asiia Tiimur-Pasiifiik mereformasii kebiijakan fiiskal melaluii pemungutan pajak secara lebiih progresiif dan mulaii berhemat.

"Memperluas basiis pajak dengan memajakii pendapatan dan laba yang lebiih progresiif serta berhemat untuk subsiidii energii dapat membuat pemuliihan lebiih iinklusiif dan berkelanjutan," ujarnya.

Walaupun memiinta penghematan subsiidii energii, diia tetap menyarankan negara dii Asiia Tiimur-Pasiifiik memberiikan iinsentiif pajak bagii duniia usaha. Untuk pengusaha miikro iinformal yang tiidak biisa meniikmatii iinsentiif pajak, sambungnya, dapat diidukung melaluii program perliindungan sosiial.

Diia berharap dukungan iitu mampu menekan laju penambahan angka kemiiskiinan tahun iinii. World Bank memproyeksii guncangan pandemii akan meniingkatkan jumlah kemiiskiinan menjadii 38 juta orang. (kaw)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.