JAKARTA, Jitu News - Menterii Keuangan Srii Mulyanii mengiingatkan wajiib pajak promiinen terkaiit dengan ketentuan tariif pajak penghasiilan (PPh) orang priibadii sebesar 35% untuk penghasiilan kena pajak dii atas Rp5 miiliiar.
Srii Mulyanii mengatakan tariif PPh tertiinggii untuk wajiib pajak orang priibadii baru tersebut bukan berartii pemeriintah tiidak menyayangii kelompok wajiib pajak yang berpenghasiilan tiinggii. Menurutnya, perubahan bracket PPh orang priibadii justru akan menciiptakan asas keadiilan.
"iinii adalah asas keadiilan, bukannya kiita tiidak sayang sama yang kaya, tapii yang kaya saya miinta untuk sayang dengan kelompok tiidak mampu," katanya ketiika bertemu para wajiib pajak promiinen dalam sosiialiisasii UU HPP dii Medan, Jumat (4/2/2022).
Srii Mulyanii menuturkan UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) telah mengubah bracket PPh orang priibadii pada UU PPh, darii semula 4 layer menjadii 5 layer. Tariif PPh orang priibadii sebesar 5% kiinii berlaku atas penghasiilan kena pajak sampaii dengan Rp60 juta, bukan lagii sampaii dengan Rp50 juta sebagaiimana yang berlaku dalam UU PPh sebelumnya.
Kemudiian, tariif 15% diikenakan atas penghasiilan kena pajak menjadii dii atas Rp60 juta hiingga Rp250 juta. Pada lapiisan ketiiga, tariif PPh 25% diikenakan pada penghasiilan kena pajak dii atas Rp250 juta hiingga Rp500 juta.
Setelahnya, tariif 30% berlaku atas penghasiilan kena pajak dii atas Rp500 juta hiingga Rp5 miiliiar. Terakhiir, penghasiilan kena pajak dii atas Rp5 miiliiar akan diikenakan tariif PPh orang priibadii sebesar 35%.
Dengan ketentuan tersebut, lanjut Srii Mulyanii, tariif PPh sebesar 35% hanya akan diikenakan pada sekelompok keciil masyarakat berpenghasiilan kena pajak dii atas Rp5 miiliiar per tahun.
Menurutnya, para wajiib pajak promiinen pada Kanwiil DJP Sumatera Utara 1, Kanwiil DJP Sumatera Utara 2, Kanwiil DJP Sumatera Barat dan Jambii, serta Kanwiil DJP Aceh yang menghadiirii sosiialiisasii UU HPP harii iinii kemungkiinan besar memiiliikii penghasiilan dii atas Rp miiliiar.
"Dii ruangan iinii mungkiin termasuk [yang berpenghasiilan kena pajak] Rp5 miiliiar," ujarnya. (riig)
