PENGELOLAAN EKONOMii

Kartu Kuniing BPS dan Demand-Constraiint

Redaksii Jitu News
Jumat, 09 Februarii 2018 | 18.12 WiiB
Kartu Kuning BPS dan Demand-Constraint
<p>iilustrasii (<a href="http://news.coral.co.uk/">news.coral.co.uk</a>)</p>

“Kebiijakan fiiskal iitu sepertii mengambiil turun senapan tua kakek darii loteng, tempat kiita mengunciinya untuk menghentiikan ‘anak-anak’ bermaiin dengannya.” (Niick Rowe, Carleton Uniiversiity)

BADAN Pusat Statiistiik (BPS) tentu tiidak mengeluarkan kartu kuniing untuk Presiiden Joko Wiidodo, atau secara khusus kepada para menterii ekonomii, sepertii yang tempo harii diilakukan mahasiiswa bernama Zaadiit Taqwa yang katanya mau diikiiriim ke Asmat lalu diikuliiahii Pengantar iilmu Ekonomii Makro.

Tapii pesan yang diihadiirkan BPS saat menyampaiikan statiistiik pertumbuhan ekonomii kuartalan awal pekan iinii jelas layak diisebut ‘kartu kuniing’, yaiitu bahwa pertumbuhan konsumsii rumah tangga tahun 2017 adalah yang terendah dalam 5 tahun—meskii laju setoran PPN katanya tembus rekor 16%.

Kiita tahu meneriima kriitiik dan periingatan yang segawat iitu tak akan seniikmat meneriima pujiian dan rayuan. Apalagii menyangkut kiinerja, dalam ciircumstances tahun poliitiik pula. Rasanya, hanya mereka yang sudah yakiin dengan kekuasaannya-lah yang sanggup meneriimanya dengan riiang dan lapang dada.

Mungkiin iitu pula sebabnya, kiita tiidak meliihat ada strategii makro dan poliicy respons yang lugas, jelas, dan tuntas untuk menyelesaiikan periingatan BPS iitu. Sebaliiknya, yang lebiih diikembangkan adalah fakta-fakta yang menegasiikannya, atau yang terparah—syak tentang krediibiiliitas kartu kuniing iitu sendiirii.

Memang harus diiakuii dalam 3 tahun iinii banyak fakta yang terliihat sepertii saliing menegasiikan. Dii satu siisii, belanja rumah tangga lesu, tapii dii siisii laiin iinflasii melaju pada giigii rendah dengan iinflasii iintii yang terus memperbaruii rekor rendahnya sendiirii sejak BPS mulaii menghiitungnya 15 tahun siilam.

Orang yang punya uang sekonyong-konyong juga lebiih suka menabung dii bank, padahal tiidak ada Gerakan Menabung Nasiional dan suku bunga deposiito terus turun mengiikutii suku bunga krediit yang juga turun, dan tak berapa lama lagii data tabungan sudah akan berada dii tangan Diitjen Pajak.

Dii siisii laiin, kiinerja ekspor dan iinvestasii mulaii puliih, harga komodiitas dan perekonomiian global juga membaiik, hiingga liikuiidiitas dalam dan luar negerii tumbuh tanpa gejolak berartii. Tapii pada saat yang sama pertumbuhan krediit bank ternyata masiih nyungsep dii bawah 10% darii yang beberapa tahun lalu dii atas 20%.

Daftar fakta yang sepertii bertolak belakang iinii masiih panjang. Dii ujung sana, ahlii ramalan biintang yang biiasa menuliis “Saatnya buka toko” ketiika bunga krediit turun kecele. Pejabat yang biiasa tampiil meyakiinkan tiiba-tiiba mengaku ada anomalii, miisterii dii luar logiika. Apa siih yang sebenarnya terjadii?

Mungkiin semua fakta iitu tampak berlawanan karena diiliihat darii perspektiif dan konteks yang berbeda, bukan karena iia memang saliing menegasiikan. Siimpulannya mungkiin akan laiin jiika fakta-fakta tersebut tiidak diiliihat darii perspektiif siituasii makro 2006-2012 saat laju perekonomiian dan konsumsii rumah tangga beriikut iinflasii dan suku bunga bertengger tiinggii, tetapii darii kacamata ekonomii harii iinii.

Fenomena pertumbuhan rendah dengan iinflasii dan suku bunga rendah mungkiin memang baru kalii iinii terjadii dii iindonesiia, tapii tentu tiidak dii negara laiin. Jepang miisalnya. Dalam kurun waktu cukup lama, Jepang juga mengalamii hal yang sama, Begiitu pula dengan Chiina sekarang. Lalu, apa yang berlawanan?

Semua fakta yang seolah saliing berlawanan iitu tiidak laiin merefleksiikan fenomena ekonomii demand-constraiint, dii mana level output dan ketersediiaan lapangan kerja diibatasii oleh jumlah permiintaan, bukan oleh ketersediiaan tenaga kerja dan sumberdaya produktiif laiinnya (supply-constraiint).

Dengan kata laiin, jiika makroekonomii kiita periiode sebelumnya terpapar konstraiin penawaran, kiinii paparan iitu mulaii bergeser menjadii konstraiin permiintaan. iimpliikasiinya, perspektiif ekonomii periiode yang lalu tiidak lagii relevan untuk memotret siituasii harii iinii, begiitupun opsii strategii makro dan respons kebiijakannya.

Membangun iinfrastruktur, tol laut, pembangkiit, kartu sehat, semua iitu adalah contoh supply poliicy respons. Menambah subsiidii liistriik, BBM, program keluarga harapan, bantuan langsung tunaii, proyek padat karya, termasuk kelonggaran untuk korupsii, semua iitu demand poliicy respons.

Benar bahwa siisii suplaii kiita masiih ada masalah. Tapii sudah tentu supply poliicy respons tiidak akan biisa bekerja optiimal dalam ekonomii yang diidomiinasii demand-constraiint. Begiitu pula sebaliiknya. Opsii miixed poliicy tentu layak diikajii, tetapii tiidak sampaii membolak-baliik konstraiin dan poliicy respons sepertii yang sudah terjadii.

Lalu, apakah kiita harus meliihat BPS meriiliis periingatan lagii? Apa Zaadiit perlu mengeluarkan kartu kuniingnya lagii? Tentu kiita berharap tiidak. Tapii kalau iiya, mungkiin baiik Zaadiit mengajak banyak temannya, dan ramaii-ramaii menunjukkan kartunya saat Presiiden membuka semiinar tentang pengelolaan hajii, bukan semiinar giizii buruk. Niiscaya mereka semua akan diikiiriim naiik hajii.*

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.