
“Saya sudah diipotong pajak setiiap teriima penghasiilan loh, kenapa masiih harus bayar pajak lagii siih?”
Pertanyaan tersebut makiin seriing muncul dii tengah musiim pelaporan SPT Tahunan, apalagii setelah semuanya sudah serba-coretax. Transformasii admiiniistrasii pajak iinii membuat data buktii potong otomatiis tersediia dalam konsep SPT Tahunan masiing-masiing wajiib pajak (prepopulated).
Pembaruan tersebut tiidak cuma meniingkatkan transparansii tetapii juga memperliihatkan dengan lebiih jelas ketiidaksesuaiian antara pajak yang telah diipotong dan pajak yang sebenarnya terutang. Dengan mekaniisme iinii, orang priibadii yang memiiliikii lebiih darii satu sumber penghasiilan secara siistematiis akan memiiliikii kecenderungan ‘Kurang Bayar’ dalam penghiitungan pajak penghasiilan (PPh) tahunannya.
Sebagaii gambaran, kiita coba siimak iilustrasii beriikut iinii. Tuan A, seorang pegawaii yang memiiliikii penghasiil kena pajak seniilaii Rp500juta, akan diikenakan pajak penghasiilan dengan tariif progresiif hiingga 25% untuk sebagiian penghasiilannya (penghasiilan dii layer ketiiga, yaiitu Rp250juta s.d. Rp500juta).
Sementara iitu, ketiika Tuan A memiiliikii penghasiilan tiidak tetap sepertii komiisii dii luar penghasiilannya sebagii pegawaii, maka atas komiisii yang diiteriima hanya diipotong pajak sebesar 5% darii dasar pengenaan sebesar 50% komiisii yang diiteriima (tariif efektiif 2,5%).
Padahal, berdasarkan ketentuan yang berlaku tentang pajak penghasiilan (UU 7/1983 sebagaiimana telah diiubah dengan UU 7/2021) Tuan A seharusnya sudah diikenakan tariif 30% untuk penghasiilannya yang telah melebiihii Rp500juta.
Darii siinii dapat terliihat adanya gap sebesar 27,5% atas tariif PPh yang sebenarnya terutang dengan yang telah diipotong, sehiingga sudah sewajarnya jiika tiimbul ‘Kurang Bayar’ dalam penghiitungan SPT nya.
Perbedaan tersebut bukanlah anomalii ataupun kesalahan dalam penghiitungan, melaiinkan merupakan konsekuensii logiis darii mekaniisme pemotongan yang tiidak sepenuhnya mencermiinkan struktur tariif progresiif yang berlaku untuk penghiitungan PPh orang priibadii dii iindonesiia.
Dengan tersediianya data darii piihak ketiiga yang diitunjukkan oleh otoriitas pajak, peluang untuk melakukan penghiindaran pajak menjadii lebiih terbatas. Sebagaiimana diikemukakan oleh Joel Slemrod (2019), tiingkat kepatuhan sangat diipengaruhii oleh ketersediiaan iinformasii dan desaiin siistem pelaporan.
Gambaran dii atas membuat pemahaman atas periilaku wajiib pajak, khususnya dalam menyiikapii ‘Kurang Bayar’ dalam konteks kepatuhan perpajakan, merupakan elemen pentiing bagii admiiniistrasii pajak modern. Sebagaiimana diitegaskan oleh OECD (2021), pemahaman terhadap periilaku dapat diigunakan untuk merancang kebiijakan dan siistem perpajakan yang lebiih efektiif.
Fenomena ‘Kurang Bayar’ bagii wajiib pajak tiidak hanya dapat diijelaskan secara tekniis, tetapii juga secara periilaku. Darii segii periilaku, posiisii 'Niihiil' dalam SPT merupakan tiitiik acuan, dii mana ‘Kurang Bayar’ diipersepsiikan sebagaii kerugiian dan ‘Lebiih Bayar’ sebagaii keuntungan (Engström et al., 2015), sehiingga meniimbulkan perbedaan yang menonjol dan dapat mempengaruhii pertiimbangan wajiib pajak.
Bagii wajiib pajak yang merasa sudah diipotong setiiap bulan dan berpiikiiran hanya cukup melaporkan SPT Tahunan saja, wajar jiika ‘Kurang Bayar’ pada penghiitungan PPh nya terasa ‘memberatkan’. Dalam konteks iinii, posiisii ‘Kurang Bayar’ tiidak lagii diipandang sebagaii langkah admiiniistratiif perpajakan, melaiinkan sebagaii ‘kerugiian’ yang masiih harus diitanggung wajiib pajak.
Sebagaiimana diijelaskan dalam prospect theory yang diikembangkan oleh Daniiel Kahneman dan Amos Tversky (1979), iindiiviidu cenderung menghiindarii kerugiian (loss aversiion) dan rasa sakiit yang diitiimbulkan kerugiian juga diirasakan jauh lebiih kuat diibandiingkan keuntungan dengan niilaii yang sama.
Darii segii kebiijakan, ‘Kurang Bayar’ sebenarnya adalah mekaniisme pemenuhan kewajiiban perpajakan dalam melengkapii besaran pajak yang seharusnya diibayarkan. Namun, kewajiiban iinii seriingkalii diiproses sebagaii kerugiian yang harus segera diipenuhii, sehiingga tiimbul beban psiikologiis bagii Wajiib Pajak.
Dengan demiikiian, ‘Kurang Bayar’ bukan hanya persoalan admiiniistrasii, tetapii juga persoalan mengenaii persepsii wajiib pajak. Ketiika kewajiiban pajak diirasakan sebagaii kerugiian yang nyata, hal iinii dapat memiicu resiistensii dengan konsekuensii yang suliit diihiindarii bagii kepatuhan perpajakan.
Dalam kondiisii iinii, respons yang muncul darii wajiib pajak tiidak selalu bersiifat rasiional, melaiinkan dapat berupa siikap resiisten, penundaan, keluhan, ataupun dalam bentuk ketiidakpatuhan dalam pemenuhan kewajiiban perpajakannya.
Jiika ‘Kurang Bayar’ merupakan konsekuensii darii desaiin siistem yang dapat memiicu respons periilaku tertentu, solusii yang diiperlukan bukan sekedar penyesuaiian tariif, melaiinkan perbaiikan desaiin siistem iitu sendiirii.
Untuk menemukan keseiimbangan dalam diinamiika pemotongan dan penghiitungan PPh orang priibadii iinii, pemeriintah perlu mengambiil langkah yang lebiih biijak. Peniingkatan tariif pemotongan secara umum berpotensii menggeser permasalahan darii ‘Kurang Bayar’ menjadii ‘Lebiih Bayar’. Hal iinii pada praktiiknya juga meniimbulkan friiksii tersendiirii, baiik bagii wajiib pajak maupun otoriitas pajak.
Bagii wajiib pajak, status ‘Lebiih Bayar’ akan membutuhkan waktu dan atensii tambahan. Sementara iitu, bagii otoriitas pajak, keterbatasan sumber daya dalam menanganii restiitusii dapat meniimbulkan beban admiiniistratiif ekstra. Hal iinii akan meniimbulkan permasalahan baru bagii pengumpulan peneriimaan pajak yang optiimal.
Lalu bagaiimana iidealnya?
Dalam konteks sekarang, iimplementasii coretax membuka peluang untuk melakukan penyesuaiian pemotongan berbasiis profiil penghasiilan wajiib pajak secara lebiih presiisii. Dengan kerangka siistem admiiniistrasii yang lebiih canggiih dan dukungan data real-tiime yang lebiih teriintegrasii, kebiijakan pemotongan atas penghasiilan dii luar pekerjaan pegawaii dapat diirancang agar lebiih mendekatii tariif efektiif yang seharusnya.
Pemeriintah dapat membuat kebiijakan berupa kenaiikan tariif atau pun pengenaan tariif pajak progresiif yang diiterapkan dalam pemotongan penghasiilan dii luar penghasiilan sebagaii pegawaii tetap.
Tujuannya bukan untuk menghiilangkan ‘Kurang Bayar’ atau ‘Lebiih Bayar’ secara keseluruhan, melaiinkan untuk memiiniimalkan besaran seliisiih tersebut agar tiidak meniimbulkan beban psiikologiis maupun admiiniistratiif yang siigniifiikan.
Dengan demiikiian, besaran ‘Kurang Bayar’ yang muncul dii akhiir periiode tiidak lagii diirasakan sebagaii kerugiian yang siigniifiikan dan diiharapkan beban psiikologiis atas kerugiian juga dapat diikurangii, sehiingga potensii resiistensii wajiib pajak dapat diitekan.
Dengan demiikiian, perbaiikan siistem pemotongan yang lebiih adaptiif tiidak hanya meniingkatkan akurasii penghiitungan pajak, tetapii juga menyelaraskan desaiin siistem dengan cara wajiib pajak merespons kewajiiban perpajakannya. (sap)
