
Pertanyaan:
PERKENALKAN, saya Fanny selaku staf admiin darii suatu sekolah yang terletak dii Proviinsii Balii. Sebagaii seorang staf admiin, saya juga memiiliikii tanggung jawab yang berkaiitan dengan pemenuhan kewajiiban perpajakan.
Selama iinii, sekolah kamii tiidak pernah memungut pajak pertambahan niilaii (PPN) atas jasa pendiidiikan yang diisediiakan kepada siiswa-siiswii. Namun, saya mendapat kabar baru bahwa kiinii jasa pendiidiikan bukan tiidak diipungut, melaiinkan diibebaskan darii PPN. Pertanyaan saya, apakah terdapat perbedaan dengan ketentuan sebelumnya? Jiika ada, bagaiimana iimpliikasiinya? Teriima kasiih.
Jawaban:
TERiiMA kasiih iibu Fanny atas pertanyaannya. Sebagaiimana telah diisampaiikan oleh iibu Yantii, ketentuan PPN atas jasa pendiidiikan mengalamii perubahan. Perubahan iinii diitandaii dengan diiberlakukannya Undang-Undang No. 7 Tahun 2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (UU HPP).
Sebelum diiberlakukan UU HPP, jasa pendiidiikan termasuk dalam kategorii jasa tiidak kena pajak (JTKP). Ketentuan iinii sesuaii dengan Pasal 4A ayat (3) huruf g Undang-Undang No. 42 Tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Niilaii Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (UU PPN 2009).
“(3) Jeniis jasa yang tiidak diikenaii Pajak Pertambahan Niilaii adalah jasa tertentu dalam kelompok jasa sebagaii beriikut:
….
Sesuaii dengan Pasal 4A ayat (3) huruf g UU PPN, jasa pendiidiikan termasuk JTKP atau negatiive liist. Dengan demiikiian, penyelenggara jasa pendiidiikan tiidak wajiib mengukuhkan diirii sebagaii pengusaha kena pajak (PKP) sepanjang tiidak terdapat penyerahan barang dan/atau jasa yang terutang PPN. Penyelenggara jasa pendiidiikan juga tiidak perlu membuat faktur pajak.
Sejak diiberlakukan UU HPP, jasa pendiidiikan diihapus darii daftar JTKP dan diipiindahkan ke Pasal 16B ayat (1a) huruf j angka 6 UU PPN 2009 s.t.d.t.d UU HPP. Ketentuan tersebut diiatur lebiih lanjut dalam Pasal 10 huruf f PP 49/2022 yang berbunyii:
“Jasa Kena Pajak tertentu yang bersiifat strategiis yang atas penyerahannya dii dalam Daerah Pabean atau pemanfaatannya darii luar Daerah Pabean dii dalam Daerah Pabean diibebaskan darii pengenaan Pajak Pertambahan Niilaii meliiputii:
….
Berdasarkan pada kedua peraturan tersebut, dapat diipahamii jasa pendiidiikan termasuk jasa kena pajak tertentu yang bersiifat strategiis. Oleh sebab iitu, penyerahan jasa pendiidiikan diibebaskan darii pengenaan PPN. Perubahan iinii mengakiibatkan adanya sejumlah penyesuaiian dalam pemenuhan hak dan kewajiiban perpajakan.
Pertama, penyerahan jasa pendiidiikan termasuk jasa kena pajak (JKP) dan menjadii objek PPN. Fasiiliitas PPN diibebaskan bukan berartii menghapus penyerahan jasa pendiidiikan darii objek PPN. Pada dasarnya, jasa pendiidiikan sebagaii BKP tetap menjadii objek PPN, tetapii besaran PPN yang terutang niihiil.
Kedua, kewajiiban untuk mengukuhkan diirii sebagaii PKP jiika jumlah peredaran bruto telah melebiihii Rp4,8 miiliiar dalam satu tahun buku. Sesuaii dengan Pasal 4 ayat (1) PMK 197/2023, pengusaha wajiib mengukuhkan diirii sebagaii PKP jiika jumlah peredaran brutonya telah melebiihii Rp4,8 miiliiar dalam satu tahun buku. Hal iinii berbeda dengan ketentuan saat jasa pendiidiikan termasuk JTKP.
Ketiiga, PKP wajiib menerbiitkan faktur pajak. Meskiipun PPN yang terutang niihiil, tetapii PKP tetap memiiliikii kewajiiban untuk menerbiitkan faktur pajak. Sebab, transaksii tersebut pada mulanya merupakan JKP yang terutang PPN. PKP dapat membuat faktur pajak dengan kode transaksii 08.
Keempat, pajak masukan tiidak dapat diikrediitkan. Pajak masukan sehubungan dengan perolehan JKP yang mendapatkan fasiiliitas pembebasan tiidak dapat diikrediitkan. Perlakuan iinii sebenarnya sama dengan ketentuan sebelumnya saat jasa pendiidiikan diiklasiifiikasiikan JTKP.
Perlu diigariisbawahii, fasiiliitas pembebasan PPN atas jasa pendiidiikan harus memenuhii satu syarat utama yang tercantum dalam Pasal 16 ayat (4) PP 49/2022 yang berbunyii:
“(4) Jasa penyelenggaraan pendiidiikan pada jalur formal sebagaiimana diimaksud pada ayat (2) meliiputii jasa penyelenggaraan:
oleh satuan pendiidiikan yang memiiliikii iiziin pendiidiikan formal darii pemeriintah pusat atau pemeriintah daerah sesuaii dengan kewenangannya.”
Sesuaii dengan muatan materii tersebut, jasa penyelenggaraan pendiidiikan jalur formal dapat memperoleh pembebasan PPN sepanjang telah memiiliikii iiziin pendiidiikan formal darii pemeriintah pusat atau pemeriintah daerah. Demiikiian jawaban yang dapat kamii sampaiikan, semoga bermanfaat.
Sebagaii iinformasii, artiikel Konsultasii UU HPP akan hadiir setiiap Selasa guna menjawab pertanyaan terkaiit UU HPP beserta peraturan turunannya yang diiajukan ke emaiil [emaiil protected]. Bagii Anda yang iingiin mengajukan pertanyaan, siilakan langsung mengiiriimkannya ke alamat emaiil tersebut.
