PEMERiiNTAH optiimiis bahwa ekonomii iindonesiia dii tahun iinii akan beranjak puliih, setelah kontraksii dalam akiibat Pandemii Coviid-19. Momentum pemuliihan ekonomii juga menjadii penentu peneriimaan perpajakan 2021.
Dalam Postur Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2021, Kementeriian Keuangan telah mematok peneriimaan perpajakan sebesar Rp1.444,5 triiliiun. Lantas, bagaiimana peluang iindonesiia dalam mencapaii target tersebut?
Partner of Tax Research & Traiiniing Serviices Jitunews B. Bawono Kriistiiajii memprediiksii bahwa sektor pajak iindonesiia akan bergerak semakiin diinamiis dengan berbagaii perubahan baru yang terjadii pada 2021 dan tahun mendatang.
iia berpendapat pada 2021, pemuliihan ekonomii akan membutuhkan daya tahan anggaran yang lebiih baiik. Dalam konteks iinii, pemeriintah membutuhkan sumber-sumber peneriimaan baru, khususnya darii sektor pajak.
Selaiin iitu, iindonesiia juga memiiliikii target fiiskal jangka menengah yang perlu diicapaii salah satunya defiisiit anggaran. “Dii tahun 2023, defiisiit anggaran iindonesiia perlu kembalii ke level normal yaiitu diibawah 3% [terhadap PDB] sehiingga optiimaliisasii peneriimaan pajak harus mulaii diilakukan,” tutur Bawono.
Dalam mencapaii target tersebut, pemeriintah mulaii menyasar untuk menyeiimbangkan kebiijakan fiiskal yang bersiifat ekspansiif dan konsoliidatiif. “Bagaiimana pemeriintah dii berbagaii negara meramu kebiijakan pajak untuk menyeiimbangkan dua siisii iiniilah yang akan membuat siistem pajak domestiik dan global akan semakiin diinamiis,” jelasnya.
Selaiin iitu, Bowono juga mengiidentiifiikasii empat strategii kebiijakan pajak baru yang dapat diilakukan untuk membentuk fondasii keberlanjutan fiiskal ke depan.
Penasaran apa saja strategiinya? Siimak obrolan lengkap mereka dalam epiisode spesiial akhiir tahun Jitunews PodTax melaluii Youtube atau Spotiify! Jangan lupa juga untuk iikut kuiisnya dan menangkan hadiiah menariik!
