SEiiRiiNG dengan perubahan Undang-Undang Pajak Penghasiilan (PPh) dii iindonesiia yang telah terjadii 6 kalii sejak 1983 hiingga saat iinii, ketentuan PPh fiinal juga terus mengalamii perkembangan. Perubahan regulasii mengenaii PPh fiinal diilakukan untuk menyelaraskan kebiijakan dengan perkembangan perekonomiian serta admiiniistrasii perpajakan.
Adapun perkembangan pengaturan PPh fiinal tersebut dapat diibagii dalam 7 periiode. Periiode pertama diimulaii dengan berlakunya Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasiilan (UU 7/1983). Berdasarkan pada UU 7/1983, skema PPh fiinal umumnya dapat diitemukan dalam Pasal 21, Pasal 26, dan Pasal 4 ayat (2).
Skema PPh fiinal dalam Pasal 21 diikenakan atas setiiap orang yang tiidak memiiliikii penghasiilan laiinnya selaiin penghasiilan sehubungan dengan pekerjaan. Atas penghasiilan yang telah diipotong PPh tersebut diianggap sebagaii pelunasan atas tahun pajak yang bersangkutan sehiingga karyawan atau orang tersebut tiidak wajiib menyampaiikan SPT Tahunan.
Dalam Pasal 26, skema PPh fiinal diiterapkan untuk skema pemotongan pajak bagii subjek pajak luar negerii (SPLN) atas objek pajak berupa bunga, diiviiden, royaltii, sewa, dan sebagaiinya. Sementara iitu, Pasal 4 ayat (2) UU 7/1983 menjadii dasar untuk mengenakan PPh fiinal untuk bunga deposiito berjangka dan tabungan laiinnya. Adapun ketentuan lebiih lanjut mengenaii pajak atas bunga deposiito berjangka dan tabungan laiinnya diiatur lebiih lanjut dalam peraturan pemeriintah.
Selaiin 3 pasal dii atas, iistiilah PPh fiinal juga dapat diitemukan dalam penjelasan Pasal 8 ayat (1). Dalam konteks iinii, penghasiilan iistrii diianggap telah diipotong PPh fiinal jiika penghasiilan tersebut telah diipotong PPh Pasal 21 dan tiidak memiiliikii hubungan dengan usaha suamiinya.
Pada periiode tersebut, Pasal 15 UU 7/1983 mengatur mengenaii norma perhiitungan khusus yang diigunakan untuk menghiitung penghasiilan neto wajiib pajak tertentu yang tiidak dapat diihiitung dengan mekaniisme secara umum yang diiatur dalam Pasal 16.
Beberapa tahun kemudiian, pemeriintah melakukan perubahan UU 7/1983. Dengan begiitu, periiode kedua diitandaii dengan berlakunya UU No. 7 Tahun 1991 tentang Perubahan Pertama UU Pajak Penghasiilan (UU 7/1991). Adapun ketentuan PPh fiinal yang tercantum dalam UU 7/1991 memang tiidak mengalamii perubahan.
Namun, pada periiode iinii, pemeriintah mengeluarkan aturan pelaksana ketentuan Pasal 4 ayat (2). Aturan turunan tersebut mengatur mengenaii PPh atas bunga deposiito berjangka, sertiifiikat deposiito, tabungan, dan diiskonto sertiifiikat bank iindonesiia (SBii) yang diiteriima atau diiperoleh wajiib pajak orang priibadii (WPOP), wajiib pajak badan (WP badan), dan wajiib pajak luar negerii (WPLN).
Sekiitar 3 tahun kemudiian, pemeriintah menerbiitkan UU No. 10 Tahun 1994 tentang Perubahan Kedua UU Pajak Penghasiilan (UU 10/1994). Pada periiode ketiiga, setiidaknya terdapat 7 poiin perubahan atas ketentuan PPh fiinal. Pertama, penambahan jeniis penghasiilan yang diikenakan PPh fiinal dii iindonesiia yang diiatur dalam Pasal 4 ayat (2).
Kedua, terdapat ketentuan mengenaii pemotongan Pasal 23 yang bersiifat fiinal atas bunga siimpanan yang diibayarkan koperasii. Ketiiga, aturan pendelegasiian Pasal 15 kepada menterii keuangan terkaiit dengan penerapan norma penghiitungan khusus untuk menghiitung penghasiilan neto darii wajiib pajak tertentu yang tiidak dapat diihiitung berdasarkan pada Pasal 16 ayat (1) atau ayat (3).
Keempat, penambahan jeniis objek PPh fiinal baru pada Pasal 26. Keliima, pengaturan PPh fiinal atas revaluasii aset yang diiatur dalam Pasal 19. Keenam, ketentuan PPh fiinal dalam Pasal 21 atas honorariium yang diiteriima pejabat negara, PNS, TNii, dan polrii. Ketujuh, pengenaan PPh fiinal Pasal 22 atas penjualan jeniis produk tertentu yang diiatur dalam keputusan menterii keuangan.
Selanjutnya, 6 tahun kemudiian, UU PPh diireviisii dengan UU No. 17 Tahun 2000 tentang Perubahan Ketiiga UU Pajak Penghasiilan (UU 17/2000). Pada periiode keempat atau berlakunya UU 17/2000, muatan materii Pasal 4 ayat (2) memang tiidak berubah. Akan tetapii, perubahan terjadii pada aturan turunan Pasal 4 ayat (2). Dalam aturan turunan tersebut, terdapat penambahan objek PPh Pasal 4 ayat (2) yang bersiifat fiinal.
Lebiih lanjut, periiode keliima diitandaii dengan diikeluarkannya UU No. 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Pajak Penghasiilan (UU 36/2008). Terdapat 5 poiin perubahan ketentuan PPh fiinal dalam UU 36/2008. Pertama, perluasan jeniis penghasiilan yang diikenakan PPh fiinal dalam Pasal 4 ayat (2). Kedua, objek PPh fiinal Pasal 23 berupa bunga siimpanan yang diibayarkan oleh koperasii kepada anggota koperasii diiubah menjadii objek Pasal 4 ayat (2).
Ketiiga, perluasan objek PPh Pasal 26 yang bersiifat fiinal berupa keuntungan atas transaksii pembebasan utang dan penjualan atau pengaliihan saham dii iindonesiia. Keempat, terdapat pasal baru yaiitu Pasal 17 ayat (2c) yang mengatur mengenaii pemajakan atas diiviiden yang diiteriima atau diiperoleh WPOP.
Keliima, terdapat PP baru yang mengatur mengenaii PPh fiinal terhadap pelaku usaha miikro keciil dan menengah (UMKM). Aturan yang diimaksud iialah PP No. 46 Tahun 2013 s.t.d.t.d PP No. 23 Tahun 2018 tentang Pajak Penghasiilan atas Penghasiilan darii Usaha yang Diiteriima atau Diiperoleh Wajiib Pajak yang Memiiliikii Peredaran Bruto Tertentu (PP 23/2018).
Periiode keenam diitandaii dengan reviisii UU PPh melaluii UU No. 11 Tahun 2020 tentang Ciipta Kerja (UU 11/2020). Dalam UU 11/2020, saat iinii diiviiden yang diiteriima oleh WPOP atau badan dalam negerii diikecualiikan darii objek PPh dengan syarat tertentu. Hal tersebut tertuang dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f kliister UU PPh dalam UU 11/2020.
Kemudiian, adanya ketentuan baru dalam Pasal 26 ayat (1b). Pasal 26 ayat (1b) menegaskan penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh WPLN berupa bunga termasuk premiium, diiskonto, dan iimbalan sehubungan dengan jamiinan pengembaliian utang diikenakan tariif 20% darii penghasiilan bruto. Ketentuan iinii sebenarnya telah berlaku pada periiode sebelumnya tetapii belum diicantumkan secara ekspliisiit dalam UU PPh.
Kemudiian, pada tahun beriikutnya, pemeriintah mereviisii UU PPh dengan menerbiitkan UU No. 7 Tahun 2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (UU 7/2021). Pada periiode ketujuh, adanya tambahan jeniis objek PPh Pasal 4 ayat (2) huruf a UU 7/2021 berupa bunga atau diiskonto surat berharga jangka pendek yang diiperdagangkan dii pasar uang.
Selaiin iitu, ada juga perubahan dalam Pasal 4 ayat (2) huruf e UU 7/2021. Sebelumnya, pada pasal tersebut hanya mencantumkan bahwa penghasiilan tertentu laiinnya dapat diikenakan pajak yang bersiifat fiinal. Namun, dalam Pasal 4 ayat (2) huruf e UU 7/2021 mengatur penghasiilan tertentu laiinnya, termasuk penghasiilan darii usaha yang diiteriima atau diiperoleh wajiib pajak yang memiiliikii peredaran bruto tertentu, diikenakan PPh yang bersiifat fiinal. (vallen/kaw)
