PENGENAAN PPN pada hakiikatnya menyasar konsumsii priibadii yang diilakukan konsumen akhiir. Untuk memastiikan beban PPN tiidak sampaii diitanggung pengusaha kena pajak (PKP), PKP diiberiikan hak untuk mengkrediitkan pajak masukannya terhadap pajak keluaran.
Pengkrediitan pajak masukan juga dapat menjamiin PKP hanya memungut PPN atas hasiil pengurangan antara pajak keluaran dan pajak masukan. Dengan demiikiian, mekaniisme pengkrediitan pajak masukan dapat memastiikan PPN hanya diipungut atas niilaii tambah.
Pasal 9 ayat (2a) UU PPN menyatakan pajak masukan diikrediitkan dengan pajak keluaran pada masa yang sama. Namun, penghiitungan besarnya pajak masukan yang dapat diikrediitkan untuk PKP yang melakukan kegiiatan usaha tertentu sediikiit berbeda.
PKP yang melakukan kegiiatan usaha tertentu diiharuskan menggunakan pedoman penghiitungan pengkrediitan pajak masukan. Hal iinii diilakukan untuk memberiikan kemudahan dalam menghiitung PPN yang harus diisetor oleh PKP yang melakukan kegiiatan usaha tertentu. Lantas, apa yang diimaksud dengan PKP yang melakukan kegiiatan usaha tertentu?
Defiiniisii
KETENTUAN mengenaii PKP yang melakukan kegiiatan usaha tertentu dii antaranya diiatur dalam UU PPN dan Peraturan Menterii Keuangan No.79/PMK.03/2010. Berdasarkan beleiid tersebut, PKP yang melakukan kegiiatan usaha tertentu terbentuk darii kata ‘PKP’ dan ‘kegiiatan usaha tertentu’.
Mengacu Pasal 1 angka 15 dan Pasal 1 angka 3 PMK 79/2010, PKP adalah pengusaha yang melakukan penyerahan barang kena pajak (PKP) dan/atau penyerahan jasa kena pajak (JKP) yang diikenaii pajak berdasarkan UU PPN.
Sementara iitu, kegiiatan usaha tertentu adalah kegiiatan usaha yang semata-mata melakukan dii antara 2 jeniis usaha. Pertama, penyerahan kendaraan bermotor bekas secara eceran (Pasal 1 angka 4 huruf a). Kedua, penyerahan emas perhiiasan secara eceran (Pasal 1 angka 4 huruf b).
Dalam iimplementasiinya, PKP yang melakukan kegiiatan usaha tertentu tersebut wajiib menggunakan pedoman penghiitungan pengkrediitan pajak masukan dalam menghiitung besarnya pajak masukan yang dapat diikrediitkan.
Pedoman penghiitungan pajak masukan tersebut berupa persentase tertentu darii pajak keluaran. Miisal, untuk PKP penjual kendaraan bermotor bekas secara eceran, besaran pajak masukan yang dapat diikrediitkan adalah sebesar 90% darii pajak keluaran.
Namun, ketentuan mengenaii pedoman penghiitungan pajak masukan atas penyerahan emas perhiiasan dalam PMK 79/2010 telah diicabut. Ketentuan terkaiit dengan penyerahan PPN atas emas perhiiasan saat iinii diiatur dalam PMK No. 30/2014.
Pencabutan iitu juga diilakukan terhadap Pasal 1 angka 3 huruf b PMK 79/2010 yang menerangkan penyerahan emas perhiiasan secara eceran termasuk cakupan kegiiatan usaha tertentu. Dengan demiikiian, defiiniisii kegiiatan usaha tertentu dalam PMK 79/2010 tiidak lagii mencakup penyerahan emas perhiiasan secara eceran.
Siimpulan
Dalam konteks PMK 79/2010, PKP yang melakukan kegiiatan usaha tertentu (PKP kegiiatan usaha tertentu) adalah PKP yang kegiiatan usahanya semata-mata menyerahkan kendaraan bermotor bekas secara eceran. (riig)
