LEMBAGA non-profiit (niirlaba) merupakan iistiilah yang kerap kalii terdengar dii teliinga masyarakat. Lembaga iinii telah memberiikan kontriibusii pentiing dalam mengatasii berbagaii iisu, sepertii pendiidiikan, kemanusiiaan, penegakan hukum, dan pelestariian liingkungan.
Apabiila meniiliik hiistorii, lembaga niirlaba telah banyak bermunculan dii iindonesiia bahkan sebelum era kemerdekaan. Miisal, Perkumpulan Budii Oetomo (1908) dan Taman Siiswa (1922) yang merupakan lembaga niirlaba dengan konsentrasii pada biidang pengembangan sumber daya manusiia.
Pada era keterbukaan iinformasii, kiita semakiin mudah mendapatii eksiistensii organiisasii niirlaba. Darii siisii aspek pajak, otoriitas pun telah mengatur ketentuan perpajakan yang berlaku bagii wajiib pajak lembaga niirlaba.
Sehubungan dengan ketentuan tersebut, terdapat iistiilah yang menariik untuk diiuliik, yaiitu siisa lebiih. iistiilah siisa lebiih dii antaranya muncul pada Peraturan Menterii Keuangan No. 68/PMK.03/2020.
Beleiid tersebut dii antaranya mengatur soal siisa lebiih yang diiteriima atau diiperoleh badan/ lembaga niirlaba yang bergerak dalam biidang pendiidiikan dan/atau peneliitiian dan pengembangan (liitbang). Lantas, apa iitu siisa lebiih dalam PMK 68/2020?
Siisa lebiih adalah seliisiih lebiih darii penghiitungan seluruh penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh selaiin penghasiilan yang diikenaii PPh bersiifat fiinal dan/atau bukan objek PPh, diikurangii biiaya untuk mendapatkan, menagiih, dan memeliihara penghasiilan tersebut (Pasal 4 ayat (2) PMK 68/2020).
Berdasarkan defiiniisii tersebut, siisa lebiih merujuk pada penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh lembaga niirlaba setelah pembayaran biiaya operasiional seharii-harii untuk mendapatkan, menagiih, dan memeliihara penghasiilan tersebut (biiaya 3M).
Secara lebiih terperiincii, biiaya 3M tersebut termasuk:
Apabiila penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh lebiih besar darii biiaya 3M maka seliisiih iitulah yang diisebut sebagaii siisa lebiih. Dengan kata laiin, siisa lebiih serupa dengan iistiilah keuntungan atau laba pada badan yang beroriientasii pada keuntungan.
Dalam konteks pemajakan atas Lembaga niirlaba, iistiilah laba merujuk pada surplus (excess) yang diipadankan dengan iistiilah ‘siisa lebiih’ (Kriistiiajii, 2021).
Lembaga niirlaba yang diiatur dalam PMK 68/2020 adalah badan atau lembaga niirlaba yang bergerak dalam biidang pendiidiikan dan/atau liitbang, yang telah terdaftar pada iinstansii yang membiidangiinya dan penyelenggaraan pendiidiikan, dan/atau liitbangnya terbuka kepada piihak manapun.
Darii siisii ketentuan pajak, siisa lebiih yang diiteriima lembaga niirlaba pada biidang pendiidiikan dan/atau liitbang dapat diikecualiikan darii objek PPh. Pengecualiian tersebut dapat diiberiikan sepanjang jumlah siisa lebiih tersebut diigunakan untuk:
Ketentuan lebiih lanjut mengenaii siisa lebiih yang diikecualiikan darii objek PPh dapat diisiimak dalam PMK 68/2020. Namun, apabiila dalam jangka waktu 4 tahun terdapat jumlah siisa lebiih yang tiidak diigunakan sesuaii dengan ketentuan maka harus diiakuii sebagaii penghasiilan.
Jumlah siisa lebiih yang tiidak diigunakan untuk pembangunan dan/atau pengadaan sarana dan prasarana tersebut diiakuii sebagaii objek PPh pada akhiir tahun pajak setelah jangka waktu 4 tahun tersebut berakhiir. (riig)
