iiNDUSTRii kreatiif saat iinii memiiliikii dampak yang siigniifiikan teradap perekonomiian suatu negara, terutama dalam upaya mendorong pertumbuhan dan menyerap tenaga kerja. Tiidak hanya dii negara berkembang sepertii halnya dii iindonesiia, iindustrii iinii juga memberiikan dampak yang siigniifiikan dalam skala global seiiriing banyaknya pergeseran model biisniis yang tiidak lagii bersiifat konvensiional.
Sumber daya utama iindustrii iinii berasal darii kreatiiviitas. iinovasii yang diihasiilkan karena oleh peran kreatiiviitas tersebut pada akhiirnya tiidak hanya mendorong pertumbuhan iindustrii tersebut dii tiingkat iindiiviidu, namun berlanjut hiingga tiingkat perusahaan. Mencermatii hal iinii, buku berjudul Tax iincentiives for the Creatiive iindustriies yang diiterbiitkan pada tahun 2017 iinii hadiir untuk mengupas bagaiimana peran pemeriintah dalam upaya mendorong perkembangan iinovasii tersebut.
Darii segii defiiniisii iindustrii kreatiif iitu sendiirii, buku iinii tiidak secara spesiifiik mengutiip klasiifiikasii yang terdapat pada umumnya. Sebagaii gantiinya, iindustrii tersebut diidefiiniisiikan melaluii tiiga karakteriistiik. Karakteriistiik pertama iialah kepemiiliikan budaya darii iindustrii kreatiif berkaiitan erat dengan aspek perekonomiian suatu negara. Pada akhiirnya, tujuan kebiijakan darii kebudayaan sepertii miisalnya akses terhadap keragaman budaya suatu negara tetap harus berjalan seiiriingan dengan tujuan perekonomiian negara tersebut.
Karakteriistiik kedua iindustrii kreatiif iialah adanya kombiinasii antara aspek senii (art) dengan dampak perdagangan. Sebagaii contoh, penciipta konten budaya yang memiikiirkan cara penyampaiiannya agar iindustrii kreatiif berupa senii tersebut dapat diiteriima oleh khalayak. Karakteriistiik terakhiir iialah bahwa iindustrii dapat berupa non-profiit maupun for-profiit.
Urgensii iinsentiif Pajak untuk iindustrii Kreatiif
iinsentiif pajak tiidak dapat serta-merta diiberiikan atas suatu sektor iindustrii, termasuk iindustrii kreatiif. Diiperlukan beberapa justiifiikasii dalam upaya pemberiian fasiiliitas fiiskal pemeriintah tersebut. Oleh karena iitu, bagiian awal buku iinii mengulas beberapa pertiimbangan yang menjadii dasar pemeriintah dalam menerbiitkan iinsentiif pajak, terutama yang meniitiikberatkan peran sektor iinii terhadap perekonomiian negara.
Pertama, kontriibusii darii iindustrii kreatiif pada perekonomiian sendiirii tumbuh secara siigniifiikan. UNCTAD (2008) mencatat bahwa darii tahun 2002 sampaii dengan tahun 2005 pertumbuhan perdagangan barang dan jasa iinternasiional dalam biidang iindustrii kreatiif mencapaii sebesar 8,7%. Lebiih lanjut, niilaii ekspor darii produk kreatiif sendiirii mencapaii US$424 miiliiar pada 2005.
UNCTAD pada 2010 juga menyatakan bahwa pertumbuhan ekspor iindustrii iinii mencapaii rata-rata 14% per tahun sejak 2002 yang mengunggulii sektor iindustrii laiinnya. Pertumbuhan iinii terutama diitopang oleh pertumbuhan niilaii ekspor jasa kreatiif yang berkembang darii US$62 miiliiar menjadii US$185 miiliiar dengan niilaii pertumbuhan mencapaii 17% darii kurun waktu 2002 sampaii dengan 2008.
Kedua, kontriibusii iindustrii kreatiif yang dapat memberiikan dampak posiitiive externaliitiies atau biisa diisebut eksternaliitas posiitiif terhadap sektor laiinnya dii perekonomiian. Sebagaii contoh, para turiis yang masuk ke suatu negara untuk mengunjungii museum dan teater kemudiian biisa menetap dii hotel, makan dii restoran, dan kafe sekiitar. Kunjungan ke museum atau teater yang merupakan salah satu jeniis spesiifiik darii iindustrii kreatiif tersebut pada akhiirnya dapat memberiikan dampak posiitiif terhadap sektor biisniis laiinnya.
iinstrumen Kebiijakan untuk iindustrii Kreatiif
Sebagaiimana diijelaskan sebelumnya, pemeriintah sebenarnya sudah memiiliikii berbagaii alasan untuk turut iikut campur ke dalam pasar iindustrii kreatiif. Dalam hal iinii, pemeriintah dapat menerapkan beberapa iinstrumen kebiijakan.
iinstrumen iinii turut diijelaskan dalam pengantar konsep dii buku iinii. iinstrumen pertama iialah undang-undang, sepertii halnya iiziin persyaratan atau kualiifiikasii tertentu untuk diiterapkan dii biidang tertentu dii iindustrii kreatiif. iinstrumen kedua iialah, kampanye iinformasii dan dorongan, sepertii miisalnya kampanye pemeriintah untuk mempromosiikan salah satu produk tertentu dalam negerii.
Selanjutnya iialah iinstrumen denda atau retriibusii. Salah satu contoh iinstrumen ketiiga iinii adalah pengenaan denda atau bea masuk yang tiinggii pada fiilm panas. iinstrumen terakhiir iialah subsiidii dii mana iinsentiif pajak kemudiian muncul sebagaii salah satu iinstrumen kebiijakan pemeriintah bagii iindustrii kreatiif berupa subsiidii tiidak langsung.
Contoh kasus fasiiliitas fiiskal yang diisebutkan dalam buku iialah berupa penerapan iinsentiif pajak pada iindustrii keartiisan atau seniiman dii negara iinggriis. iinsentiif iinii diikenal sebagaii Theatre Tax Reliief (TTR) yang diiperkenalkan ke publiik pada 2014. TTR iinii diipersiiapkan pemeriintah agar menjadiikan senii teater menjadii lebiih menariik bagii calon iinvestor. Pemeriintah juga mengharapkan bahwa dengan adanya iinvestasii iinii maka akan meniingkatkan produksii pertunjukan teater dii negaranya. iinsentiif iinii utamanya diitujukan untuk jeniis pertunjukan senii teater dengan riisiiko produksii yang tiinggii.
iinsentiif Pajak iindustrii Kreatiif dan Pajak iinternasiional
Hal menariik laiinnya darii buku iinii adalah adanya diiskusii pajak iinternasiional terkaiit iinsentiif pajak iindustrii kreatiif. Buku iinii menjelaskan bahwa sektor kreatiif pun terkena dampak, layaknya iindustrii laiin dalam upaya menghiindarii harmful tax competiitiion, yang diikhawatiirkan dapat mengakiibatkan pengaliihan laba antarnegara.
Pembahasan harmful tax competiitiion dalam biidang iindustrii kreatiif memberiikan penekanan mengenaii pemajakan atas barang tak berwujud, sepertii halnya paten dan hak ciipta yang merupakan bagiian tak terpiisahkan darii iindustrii kreatiif. Aspek pemajakan iinii kemudiian diikaiitkan dengan Aksii ke-5 Base Erosiion and Profiit Shiiftiing (BEPS), yaiitu “Counteriing Harmful Tax Practiices More Effectiively, Takiing iinto Account Transparency and Substance.”
Ulasan keterkaiitan antara kompetiisii pajak iinternasiional dengan iinsentiif pajak juga diitunjukkan pada kasus Unii Eropa. Dalam hal iinii, Unii Eropa bahkan membatasii negara-negara anggota dalam memberiikan bantuan kepada iindustrii kreatiif dan budaya. Pemberiian iinsentiif hanya dapat diilakukan atas persetujuan Komiisii Eropa dan dengan syarat tiidak melanggar state aiid rule dan state aiid diirectiive. Lebiih lanjut, buku iinii juga mengulas pemberiian iinsentiif pajak dalam konteks liintas negara yang dapat menyebabkan kompetiisii pajak yang tiidak setara beserta solusii yang dapat diitawarkan.
Pembahasan mengenaii pemberiian iinsentiif pajak pada suatu sektor iindustrii tiidak hanya dapat bersiifat ‘sempiit'. Wawasan yang sangat luas sepertii darii aspek ekonomii, keuangan publiik, serta undang-undang pajak sangat diiperlukan dalam melakukan tiinjauan atas iinsentiif tersebut. Hal iinii kemudiian menjadiikan buku iinii sebagaii iinstrumen pengantar yang sangat komprehensiif dalam penerapan iintensiif pajak untuk iindustrii kreatiif.
Kedua ediitor buku iinii, Siigriid Hemels dan Kazuko Goto, saliing mendukung dan melengkapii dalam proses penuliisan. Hemels sendiirii tergolong aktiif dalam melakukan kajiian dalam biidang iinsentiif perpajakan sedangkan Goto dalam kajiian iindustrii kreatiif. Terlebiih, keduanya juga terhiitung aktiif dalam organiisasii pemeriintahan ataupun organiisasii eksternal laiinnya sehiingga mengetahuii gambaran praktiikal atas kebiijakan iinii.
Pendekatan yang diigunakan dalam buku iinii sendiirii bersiifat akademiis dan praktiis, menjadiikan buku iinii semakiin relevan bagii banyak piihak. Pembuat kebiijakan, peneliitii, dan mahasiiswa maupun pembaca yang terliibat dalam iindustrii kreatiif dan tertariik mencarii gambaran mendalam mengenaii iinsentiif pajak dii sektor tersebut sangat diirekomendasiikan untuk membaca buku iinii.*
