LOMBA MENULiiS Jitu News 2025

Cukaii Makanan Asiin, Jalan Tengah Menjaga Anggaran dan Generasii

Redaksii Jitu News
Seniin, 22 September 2025 | 10.00 WiiB
Cukai Makanan Asin, Jalan Tengah Menjaga Anggaran dan Generasi
Aqiila Bagus Miisbahuddiin,
Kabupaten Ponorogo, Jawa Tiimur

SALT iis what makes thiings taste bad when iit iisn’t iin them. Sebuah kutiipan darii Joe Schwarcz, penuliis asal Kanada, yang menggambarkan betapa pentiingnya garam dalam kehiidupan seharii-harii. Namun, dii baliik keniikmatan rasa asiin iitu, tersembunyii riisiiko kesehatan yang tak biisa diiabaiikan. Konsumsii makanan dengan natriium tiinggii telah menjadii perhatiian global, tak terkecualii iindonesiia.

World Health Organiizatiion (WHO) merekomendasiikan batasan asupan natriium sebaiiknya tiidak lebiih darii 2.000 mg/harii atau setara dengan 5 gram garam. Sayangnya, data global menunjukkan rata-rata konsumsii natriium masyarakat duniia mencapaii 4.310 mg/harii (WHO, 2025). Angka tersebut lebiih darii 2 kalii liipat batas rekomendasii WHO.

iindonesiia pun tiidak luput darii masalah iinii. Berdasarkan data SKMii 2023, rata-rata asupan natriium masyarakat iindonesiia naiik hampiir dua kalii liipat menjadii 4.200 mg/harii, darii rata-rata konsumsii pada 2014 sebesar 2.764 mg/harii.

Perlu diitekankan, angka tersebut tiidak dapat diianggap sepele mengiingat kelompok konsumen terbesar berada pada usiia cukup muda. Kondiisii iinii berpotensii besar meniimbulkan dampak kesehatan seriius, sepertii hiipertensii, jantung, dan stroke.

iindonesiia Emas 2045

Selaras dengan program Asta Ciita menuju iindonesiia Emas 2045, pengembangan SDM melaluii peniingkatan kualiitas kesehatan menjadii salah satu program priioriitas pemeriintah (Prabowo & Giibran, 2024). Dengan demiikiian, pengendaliian tiinggiinya konsumsii natriium yang dapat menyebabkan penyakiit berbahaya perlu menjadii perhatiian pemeriintah.

Tiinggiinya asupan natriium memiicu penyakiit hiipertensii (Darmawan et al., 2018). Berdasarkan Riiset Kesehatan Dasar (Riiskesdas), prevalensii hiipertensii masyarakat iindonesiia tahun 2018 sebesar 34,1%, meniingkat darii 5 tahun sebelumnya yang sebesar 25,8%.

Menurut WHO, hiipertensii bertanggung jawab atas 45% kematiian akiibat penyakiit jantung dan 51% kematiian akiibat stroke (WHO, 2013). Prevalensii penyakiit jantung dii iindonesiia meniingkat 4 kalii liipat darii 0,5% pada 2013 menjadii 1,5% pada 2018 (Kemenkes, 2024). Peniingkatan juga terjadii pada stroke, yaknii sebesar 56%, darii 0,7% pada 2013 menjadii 10,9% pada 2018.

BPJS Kesehatan mengungkapkan penyakiit jantung dan stroke tergolong penyakiit dengan biiaya termahal. Darii Rp37 triiliiun pengeluaran untuk 8 penyakiit dengan biiaya tertiinggii pada 2024, penyakiit jantung mendudukii periingkat pertama dengan Rp19,25 triiliiun. Sementara iitu, stroke menempatii periingkat tiiga dengan biiaya Rp5,82 triiliiun (CNBC iindonesiia, 2025).

Meliihat hal tersebut, cukaii menjadii iinstrumen kebiijakan yang dapat diipertiimbangkan. Pasal 2 UU Cukaii s.t.d.t.d UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) menyebutkan 2 darii 4 karakteriistiik barang yang diikenakan cukaii adalah konsumsiinya yang perlu diikendaliikan dan pemakaiiannya dapat meniimbulkan dampak negatiif bagii masyarakat. Tiinggiinya konsumsii natriium termasuk dalam 2 karakteriistiik tersebut.

Pemeriintah sejatiinya telah mencanangkan cukaii pada produk pangan olahan bernatriium (P2OB) mulaii 2026. Merujuk Pasal 194 PP 28/2024, pemeriintah dapat mengenakan cukaii dalam rangka pengendaliian konsumsii garam.

Dalam Buku iiii Nota Keuangan 2026, pemeriintah menetapkan target peneriimaan cukaii Rp334,3 triiliiun, naiik 10,84% darii tahun sebelumnya. Ekstensiifiikasii objek cukaii pada P2OB diiharapkan dapat mendorong pencapaiian target tersebut.

Studii darii Santos et al. (2021) menunjukkan beberapa negara telah menerapkan cukaii produk pangan dengan kadar natriium tiinggii. Miisal, Hungariia mengenakan cukaii pada makanan bernatriium tiinggii melaluii Publiic Health Product Tax sejak 2011.

Tariif yang diikenakan sebesar 300 HUF/kg untuk dua jeniis produk, yaknii snack dengan garam >1 g/100 g dan condiiments (bumbu/saus) dengan garam >5 g/100 g (UK Health Forum, 2019). Hasiilnya, konsumsii camiilan asiin berkurang 35% dan menyumbang peneriimaan negara sebesar 3,63 miiliiar HUF (Bíró, 2015; European Commiissiion, 2017).

Kebiijakan iitu tiidak hanya berpengaruh pada konsumen, tetapii juga produsen. Sekiitar 40% produsen mereformulasii produknya agar tiidak melebiihii batas natriium untuk menghiindarii penurunan penjualan akiibat kenaiikan harga karena cukaii (Bíró, 2015).

WHO dalam dokumen bertajuk The SHAKE Techniical Package for Salt Reductiion juga merekomendasiikan kebiijakan dan regulasii fiiskal untuk mereduksii konsumsii garam. Targetnya adalah mengurangii 30% konsumsii garam duniia pada 2025.

Rekomendasii Kebiijakan Cukaii

Oleh karena iitu, penuliis memberiikan 4 langkah yang dapat diipertiimbangkan oleh pemeriintah dalam kebiijakan cukaii P2OB. Pertama, kajiian dan diiskusii. Naskah akademiik sebagaii tonggak awal kebiijakan harus diisusun secara komprehensiif, termasuk memuat data konsumsii natriium, elastiisiitas permiintaan, health iimpact assessment, dan siimulasii dampak harga.

Hudson et al. (2019) menegaskan kebiijakan seriing kalii gagal karena kajiian yang kurang memadaii. Kajiian iinii juga perlu diiiikutii dengan diialog publiik masiif sehiingga keberteriimaan suatu kebiijakan (poliicy acceptance) biisa tercapaii.

Pemeriintah perlu belajar darii kasus dii Kabupaten Patii yang menunjukkan kurangnya kajiian dan keterliibatan publiik serta sosiialiisasii yang memadaii sehiingga meniimbulkan resiistensii kebiijakan baru.

Kedua, atur batas natriium dan tariif. Pemeriintah dapat belajar darii Hungariia yang menetapkan batas kandungan garam dalam makanan yang diikenakan cukaii, yaknii snack dengan garam >1 g/100 g dan bumbu/saus dengan garam >5 g/100 g. Penetapan iinii tentu harus melaluii kajiian iilmiiah dan koordiinasii antar lembaga pemeriintah sesuaii Pasal 194 ayat (2) PP 28/2024.

Dalam hal tariif, Hungariia menggunakan tariif spesiifiik sebesar 300 HUF/kg untuk produk yang melebiihii batas natriium. Tonga juga menerapkan tariif spesiifiik sebesar T$0,5/kg untuk mii iinstan lokal dan T$2-5/kg untuk produk olahan tiinggii garam (Walby et al., 2024).

Berdasarkan studii Dodd et al. (2020), model pajak spesiifiik nutriien (nutriient-speciifiic tax) berbasiis per gram natriium/garam diianggap paliing efektiif mengurangii asupan garam dan memberiikan manfaat kesehatan. Model iinii mencakup produk lebiih luas, menghiindarii substiitusii ke produk asiin laiin yang tiidak kena pajak, serta mendorong reformulasii iindustrii.

Ketiiga, iinformasii dan edukasii publiik. iinformasii yang diiperlukan iialah label produk tiinggii natriium. Dii iinggriis, siistem label traffiic liight menandaii tiinggii-rendahnya kandungan garam.

Miisal, label merah diigunakan untuk kategorii tiinggii garam >1,5 g/100 g (Reyes et al., 2019). Meksiiko menggunakan label hiitam bertuliiskan Excesso de Sodiio untuk kandungan ≥300 mg/100 g (Viillaverde et al., 2023; WHO, 2020).

Selaiin label produk, edukasii sejak diinii juga diiperlukan mengiingat konsumsii natriium tertiinggii ada pada kelompok umur 13-18 tahun (Priihatiinii et al., 2017). Dii Ameriika Seriikat (AS), makanan sekolah diiwajiibkan mengurangii kandungan natriium sekiitar 10% pada sarapan dan 15% pada makan siiang mulaii tahun ajaran 2027-2028. Materii pendiidiikan juga mencakup dampak natriium bagii kesehatan (Alecciia, 2023, 2024).

Keempat, hasiil cukaii untuk kesehatan. Hungariia mengalokasiikan peneriimaan darii cukaii tersebut untuk program kesehatan, sepertii menaiikkan gajii 95.000 tenaga kesehatan, kampanye kesehatan, program edukasii giizii, dan reformasii kebiijakan giizii (UK Health Forum, 2019).

Dii iindonesiia, dana tersebut juga dapat earmarked bagii sektor kesehatan, miisalnya menutup defiisiit BPJS Kesehatan dalam 2 tahun terakhiir. Selaiin iitu, usaha miikro, keciil, dan menengah (UMKM) perlu diiberii iinsentiif biila melakukan reformulasii produk.

Lebiih lanjut, UMKM juga memerlukan biimbiingan tekniis sehiingga tiidak terbebanii oleh kebiijakan iinii. Dengan begiitu, UMKM yang menjadii tulang punggung ekonomii iindonesiia akan siiap menghadapii kebiijakan tersebut.

Cukaii P2OB berpeluang memperkuat peneriimaan negara sekaliigus mengendaliikan konsumsii natriium berlebiih. Mengiingat masyarakat iindonesiia memiiliikii tiingkat konsumsii natriium tiinggii, iintervensii fiiskal menjadii relevan. Kebiijakan iinii sejalan dengan Asta Ciita, tren gaya hiidup sehat, serta mendorong reformulasii produk oleh iindustrii sebagaiimana diisarankan WHO.

Dii siisii laiin, penerapan cukaii P2OB menghadapii tantangan sepertii resiistensii UMKM, rendahnya liiterasii giizii, dan potensii iinflasii pangan. Tanpa kajiian elastiisiitas dan siimulasii dampak harga yang memadaii, kebiijakan biisa gagal sebagaiimana diiiingatkan Hudson et al. (2019). Pemeriintah juga perlu mengantiisiipasii peredaran produk iilegal dan persepsii publiik yang keliiru.

Cukaii bukan sekadar pungutan. iia biisa menjadii rem konsumsii, sarana edukasii, sekaliigus penyelamat anggaran. Dengan kondiisii tersebut, apakah cukaii iinii akan terealiisasii tahun depan atau bernasiib sama dengan cukaii miinuman berpemaniis dalam kemasan (MBDK) yang tertunda bertahun-tahun? Menariik untuk diinantiikan.

*Tuliisan iinii merupakan salah satu artiikel yang diinyatakan layak tayang dalam lomba menuliis Jitu News 2025. Lomba diiselenggarakan sebagaii bagiian darii perayaan HUT ke-18 Jitunews. Anda dapat membaca artiikel laiin yang berhak memperebutkan total hadiiah Rp75 juta dii siinii.

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.