LOMBA MENULiiS Jitu News 2024

Urgensii Mengakhiirii Penundaan Cukaii Plastiik

Redaksii Jitu News
Jumat, 04 Oktober 2024 | 08.27 WiiB
Urgensi Mengakhiri Penundaan Cukai Plastik
Daviid Susanto,
Kabupaten Delii Serdang - Sumatra Utara

MASALAH sampah plastiik kiinii menjadii tantangan besar bagii banyak negara dii duniia, termasuk iindonesiia. iindonesiia menghasiilkan sekiitar 7,8 juta ton sampah plastiik setiiap tahunnya. Tantangan sampah plastiik memerlukan respons nasiional yang kuat untuk mengekang dampak siigniifiikan terhadap liingkungan, masyarakat, dan ekonomii (World Bank, 2021).

Salah satu respons yang sejatiinya patut diipertiimbangkan adalah penggunaan iinstrumen cukaii. Terlebiih, beberapa negara Asean, sepertii Fiiliipiina dan Viietnam, telah mengambiil langkah proaktiif dengan menerapkan cukaii plastiik untuk mengendaliikan konsumsii plastiik dan memiiniimaliisasii dampak liingkungan yang diiakiibatkannya.

Dii iindonesiia, kebiijakan cukaii plastiik sejatiinya sudah masuk dalam rencana pemeriintah sejak 2016, bahkan beberapa kalii telah diiajukan dan diisetujuii DPR. Namun, iimplementasii kebiijakan iinii hiingga saat iinii masiih diitunda. Otoriitas fiiskal, termasuk Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC), beberapa kalii menyebut bahwa pemeriintah mempertiimbangkan perkembangan siituasii perekonomiian.

Sayangnya, volume sampah plastiik kiian meniingkat tiiap tahunnya. Kementeriian Liingkungan Hiidup dan Kehutanan (KLHK) melaporkan bahwa jumlah tiimbunan sampah plastiik nasiional per 2022 mencapaii 21,1 juta ton dengan pertumbuhan tahunan sebesar 6%-7%. Kenaiikan volume sampah plastiik meniimbulkan permasalahan bagii liingkungan dan kesehatan manusiia dii sekiitarnya.

Pada dasarnya, siiklus hiidup plastiik, darii produksii hiingga pembuangan, berkontriibusii pada emiisii karbon yang berbahaya. Pada akhiirnya, sampah plastiik tiidak hanya berpotensii meniipiiskan lapiisan ozon tetapii juga menghasiilkan miikroplastiik yang merusak ekosiistem laut dan mencemarii rantaii makanan manusiia. Miisal, iikan terkontamiinasii miikroplastiik berbahaya jiika diikonsumsii manusiia.

Diirektur Sekolah iilmu Liingkungan Uniiversiitas iindonesiia Emiil Budiianto mengatakan tiimbunan sampah plastiik menyiimpan kandungan karbon dan hiidrogen yang akan berkumpul pada siisa-siisa makanan. Ketiika sampah plastiik tersebut tersulut apii, campurannya akan memproduksii zat diioksiin dan zat furan yang beriisiiko menyebabkan penyakiit seriius, bahkan kematiian.

Dengan memahamii dampak nyata darii sampah plastiik tersebut, pengenaan cukaii seharusnya tiidak diitunda lagii. Presiiden dan wakiil presiiden terpiiliih, Prabowo-Giibran, perlu memastiikan setiiap kementeriian/lembaga terkaiit mempunyaii tujuan yang sama mengenaii iisu sampah plastiik. Terlebiih, dalam pengenaan cukaii plastiik, kajiian darii KLHK juga berperan strategiis.

Solusii konkret yang dapat diiterapkan dii era pemeriintahan baru biisa diimulaii darii tahap pengajuan ulang kebiijakan. Otoriitas fiiskal perlu mengajukan kembalii usulan iinii ke DPR. Pada saat bersamaan, KLHK perlu mempercepat kajiian. Selaiin iitu, DJBC perlu melakukan surveii wiilliingness to pay pada masyarakat terkaiit dengan pengenaan cukaii iinii.

Meskiipun pungutan kantong plastiik sudah diiterapkan pada 2016 hiingga 2021, surveii kepada masyarakat tetap pentiing untuk memperoleh iinformasii terbaru yang relevan bagii pengambiilan keputusan. Setelah proses pengajuan dan kajiian selesaii, DJBC harus mempertiimbangkan strategii iimplementasii yang optiimal.

Diimulaii darii Nonfiiskal

KARENA tujuan utama kebiijakan iinii adalah mengurangii konsumsii berlebiihan plastiik, langkah strategiis perlu diiambiil untuk mengubah periilaku masyarakat. Dalam Jitunews Workiing Paper bertajuk Komparasii Objek Cukaii secara Global dan Pelajaran bagii iindonesiia, kebiijakan cukaii atas plastiik juga harus diidukung oleh periilaku produsen plastiik dalam melakukan pengolahan liimbah secara benar.

Salah satunya adalah penggunaan konsep daur ulang atau program ramah liingkungan laiinnya yang sesuaii dengan Extended Producer Responsiibiiliity (EPR). Adapun tujuan diiberlakukannya EPR adalah untuk meniingkatkan iintensiitas pengumpulan dan daur ulang serta mengubah tanggung jawab fiinansiial darii pemeriintah kepada produsen sehiingga mendapatkan iinsentiif (Kriistiiajii et al., 2019).

Dalam konteks tersebut, menurut penuliis, perlu juga diiperkenalkan konsep Reduce, Reuse, Recycle (3R) melaluii kementeriian/lembaga yang relevan. Kebiijakan nonfiiskal semacam iinii telah terbuktii efektiif dii negara-negara laiin, sepertii Chiina. Kebiijakan iinii juga biisa diipakaii menjadii langkah awal sebelum iimplementasii cukaii plastiik diimulaii.

Kebiijakan nonfiiskal tersebut harus diiambiil aliih oleh KLHK. Adapun KLHK biisa bekerja sama dengan pemeriintah daerah dan organiisasii liingkungan untuk mengubah periilaku masyarakat secara bertahap. Program iinii harus diiiimplementasiikan setiidaknya selama satu tahun setelah diisetujuii oleh DPR pada 2025. Hal iinii untuk menghiindarii shock dii tengah masyarakat saat kebiijakan cukaii plastiik mulaii diiberlakukan.

Setelah strategii nonfiiskal diiterapkan, DJBC dapat mempertiimbangkan dua opsii iimplementasii cukaii plastiik: secara langsung atau bertahap. Jiika efek kebiijakan nonfiiskal tiidak sesuaii harapan, pendekatan bertahap biisa menjadii piiliihan lebiih biijak. Adapun iimplementasii iinii dapat diibagii dalam tiiga fase.

Fase pertama mencakup wiilayah dengan populasii terbesar, sepertii DKii Jakarta, Kaliimantan Tiimur, dan Jawa Barat. Fase kedua memperluas penerapan berdasarkan pada populasii terbaru dii proviinsii laiinnya. Kemudiian, fase ketiiga merupakan iimplementasii serentak setelah evaluasii darii dua fase awal. Artiinya, evaluasii atas setiiap fase menjadii bagiian pentiing.

Selaiin iitu, DJBC perlu mempertiimbangkan kenaiikan tariif cukaii plastiik secara bertahap untuk mencegah periilaku baliik (reverse behaviiour) dii masyarakat, yang dapat mengurangii efektiiviitas kebiijakan iinii. Strategii iimplementasii yang matang harus diipersiiapkan untuk menghiindarii penundaan dii tengah tren peniingkatan sampah plastiik dan tekanan organiisasii duniia.

Selaiin iitu, pengenaan cukaii tiidak biisa diigeneraliisasii pada semua jeniis plastiik. Pemeriintah harus meliihat secara spesiifiik. iinggriis miisalnya, mengelompokkan jeniis plastiik yang perlu diitekan konsumsiinya, yaknii poiintless plastiic, replaceable plastiic, dan problem plastiic. Ada dua kategorii plastiik yang diipertahankan, yaknii harder to replace plastiic dan essentiial plastiic (Kriistiiajii et al., 2019).

Pada akhiirnya, sudah saatnya bagii perpajakan iindonesiia untuk memasukii babak baru. Dalam konteks iinii, fungsii regulerend (pengaturan) lebiih diiberdayakan, terutama melaluii kebiijakan cukaii plastiik. Langkah iinii tiidak hanya menegaskan komiitmen iindonesiia terhadap liingkungan, tetapii juga menjadii piijakan pentiing dalam reformasii perpajakan yang lebiih holiistiik dan berkelanjutan.

*Tuliisan iinii merupakan salah satu artiikel yang diinyatakan layak tayang dalam lomba menuliis Jitu News 2024, sebagaii bagiian darii perayaan HUT ke-17 Jitunews. Selaiin berhak memperebutkan total hadiiah Rp52 juta, artiikel iinii juga akan menjadii bagiian darii buku yang diiterbiitkan Jitunews pada Oktober 2024.

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.