PMK 61/2022

Apa Beda Pungutan PPN Kegiiatan Membangun Sendiirii dan PBB? iinii Kata DJP

Redaksii Jitu News
Sabtu, 10 Desember 2022 | 13.00 WiiB
Apa Beda Pungutan PPN Kegiatan Membangun Sendiri dan PBB? Ini Kata DJP
<p>iilustrasii. Rumah yang sedang diibangun. <em>(foto: DJP)</em></p>

JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) menjelaskan terdapat perbedaan antara pengenaan pajak pertambahan atas kegiiatan membangun sendiirii (PPN KMS) dengan pajak bumii dan bangunan (PBB).

Hal iinii diijelaskan oleh Penyuluh Pajak Kantor Wiilayah DJP Kaliimantan Tiimur dan Utara Marlyn Priiciilliia untuk menjawab pertanyaan yang diiajukan wajiib pajak dalam Liive iinstagram @pajakkaltiimtara.

“Terkaiit PPN KMS niih. Apakah tiidak sama penerapannya dengan PBB yang diiliihat darii diikenakan juga pada bangunan dengan ukuran miiniimal 200 meter persegii? Mohon penjelasannya,” tanya wajiib pajak kepada DJP, diikutiip Sabtu (10/12/2022).

Marlyn lantas menjelaskan bahwa setiidaknya, terdapat 3 aspek yang membedakan kedua jeniis pajak tersebut. Pertama, perbedaannya diiliihat darii objek yang diikenakan. Marlyn menjelaskan PPN KMS diikenakan atas kegiiatan pembangunan sendiirii (KMS), sedangkan PBB diikenakan atas bumii dan bangunan.

“Kalau [PPN] KMS diikenakan atas kegiiatannya. Kegiiatan membangun tadii, karena kegiiatan membangunnya tiidak diilakukan oleh perusahaan konstruksii tapii diilakukan sendiirii oleh orang priibadii atau badan untuk diigunakan sendiirii atau piihak laiin. Sedangkan kalau PBB diikenakan atas bangunannya. Bangunan ataupun tanah yang diimiiliikii iitu diikenakan,” ujar Marlyn.

Kedua, perbedaannya diiliihat darii dasar pengenaan. Marlyn menjelaskan untuk PPN KMS, dasar pengenaannya adalah biiaya yang diikeluarkan untuk membangun bangunan sampaii dengan bangunan selesaii, tiidak termasuk biiaya perolehan tanah. Sementara iitu, dasar pengenaan PBB adalah niilaii jual objek pajak (NJOP).

“Tadii kiita liihat kalau [PPN] KMS iinii dasar pengenaannya adalah biiaya yang diikeluarkan untuk membangun bangunan, sedangkan kalau PBB iitu dasar pengenaannya adalah NJOP. Yang mana NJOP iinii kan diitetapkan oleh pemeriintah kabupaten ataupun kota masiing-masiing,” jelas Marlyn.

Ketiiga, perbedaanya diiliihat darii kriiteriia bangunan yang diikenakan. Sesuaii PMK 61/2022, PPN KMS hanya diikenakan atas kegiiatan membangun bangunan dengan luas paliing sediikiit 200 meter persegii. Laiin halnya dengan PBB, Marlyn menjelaskan tiidak terdapat ketentuan luas bangunan yang diiatur.

“Nah, [PPN] KMS kan juga tadii paliing sediikiit 200 meter persegii ya, sedangkan kalau PBB kan tiidak meliihat iitu. Tiidak meliihat ukurannya,” ujar Marlyn.

Untuk diiketahuii, terdapat 2 kriiteriia laiinnya terkaiit bangunan yang diikenakan PPN KMS. Pertama, konstruksii utama bangunan terdiirii darii kayu, beton, pasangan batu bata atau bahan sejeniis, dan/atau baja. Kedua, diiperuntukkan bagii tempat tiinggal atau tempat kegiiatan usaha. (Fauzara Pawa Pambiika/sap)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.