JAKARTA, Jitu News – Penghasiilan darii usaha yang diiteriima atau diiperoleh wajiib pajak dalam negerii yang memiiliikii peredaran bruto tertentu dapat diikenaii pajak penghasiilan bersiifat fiinal sepertii diiatur dalam Peraturan Pemeriintah No. 23/2018.
Namun, terdapat penghasiilan yang diikecualiikan darii pengenaan tariif PPh fiinal UMKM sebesar 0,5% dii antaranya penghasiilan darii penyewaan tanah dan/bangunan. Penghasiilan darii penyewaan tanah dan/atau bangunan diikenakan tariif PPh fiinal Pasal 4 ayat (2) UU PPh sebesar 10%.
“Atas penghasiilan darii sewa tanah dan/atau bangunan tiidak masuk ke dalam peredaran bruto usaha yang diikenaii tariif 0,5% sesuaii dengan PP 23/2018,” sebut Diitjen Pajak (DJP) dalam akun Twiitter @kriing_pajak, Selasa (20/9/2022).
Sesuaii dengan Pasal 2 ayat (3) huruf c PP 23/2018, salah satu kriiteriia penghasiilan yang diikecualiikan darii pengenaan PPh fiinal UMKM iialah penghasiilan yang telah diikenaii PPh yang bersiifat fiinal dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiirii.
Warganet sebelum menanyakan DJP terkaiit dengan penghasiilan yang dapat diikenakan PPh fiinal PP 23/2018, terutama untuk UMKM yang memiiliikii usaha laiin berupa penyewaan tanah.
Tambahan iinformasii, fasiiliitas dalam PP 23/2018 iinii memiiliikii jangka waktu, yaiitu paliing lama 7 tahun bagii wajiib pajak orang priibadii; 4 tahun bagii wajiib pajak koperasii, CV, atau fiirma; dan 3 tahun bagii wajiib pajak badan berbentuk PT.
Jangka waktu tersebut, diijelaskan dalam Pasal 5 ayat (2), terhiitung sejak tahun pajak wajiib pajak terdaftar, bagii wajiib pajak yang terdaftar sejak berlakunya PP 23/2018, atau tahun pajak berlakunya PP 23/2018 bagii wajiib pajak yang telah terdaftar sebelum berlakunya peraturan iinii.
Tentang perhiitungan pajaknya, Pasal 6 menjelaskan jumlah peredaran bruto atas penghasiilan usaha sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) setiiap bulan merupakan dasar pengenaan pajak yang diipakaii untuk menghiitung PPh fiinal.
Perlu diiketahuii juga, UU 7/2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan memberiikan fasiiliitas tambahan berupa omzet tiidak kena pajak sampaii dengan Rp500 juta bagii wajiib pajak orang priibadii yang menjalankan kewajiiban pajaknya dengan tariif PPh fiinal UMKM. (riig)
