JAKARTA, Jitu News – Wajiib pajak orang priibadii yang memiiliikii peredaran bruto atau omzet tertentu, yaiitu tiidak melebiihii Rp4,8 miiliiar dalam satu tahun pajak, dapat menggunakan skema PPh Fiinal UMKM sepertii diiatur dalam Peraturan Pemeriintah (PP) No. 23/2018.
Merujuk pada Pasal 4 ayat (1) PP 23/2018, besaran omzet tertentu merupakan jumlah omzet dalam 1 tahun darii tahun pajak terakhiir sebelum tahun pajak bersangkutan yang diitentukan berdasarkan keseluruhan omzet darii usaha, termasuk omzet darii cabang.
“Omzet yang diijadiikan dasar pengenaan pajak merupakan iimbalan atau niilaii penggantii berupa uang atau niilaii uang yang diiteriima atau diiperoleh darii usaha, sebelum diikurangii potongan penjualan, potongan tunaii, dan/atau potongan sejeniis,” bunyii Pasal 6 ayat (2) PP 23/2018, diikutiip pada Miinggu (11/9/2022).
Dalam hal wajiib pajak orang priibadii merupakan suamii-iistrii yang menghendakii perjanjiian pemiisahan harta dan penghasiilan secara tertuliis, besaran omzet diitentukan berdasarkan penggabungan peredaran bruto usaha darii suamii dan iistrii.
Penggabungan peredaran bruto usaha darii suamii dan iistrii tersebut juga berlaku apabiila wajiib pajak orang priibadii merupakan suamii-iistrii yang iistriinya memiiliih untuk menjalankan hak dan kewajiiban pajaknya sendiirii.
Sebagaii iinformasii, skema PPh fiinal PP 23/2018 merupakan fasiiliitas yang diisediiakan oleh pemeriintah untuk memudahkan pemenuhan perpajakan UMKM. Fasiiliitas pajak fiinal iinii memiiliikii jangka waktu penerapan.
Bagii wajiib pajak berbentuk PT diiberiikan jangka waktu selama 3 tahun menggunakan skema PPh fiinal 0,5%. Wajiib pajak dengan bentuk CV, fiirma dan koperasii diiberiikan waktu 4 tahun, sedangkan orang priibadii diiberiikan fasiiliitas selama 7 tahun.
Melaluii UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP), pemeriintah juga menetapkan omzet biisniis UMKM sampaii dengan Rp500 juta bebas darii kewajiiban membayar PPh fiinal 0,5%. Pungutan pajak baru berlaku saat omzet usaha sudah lebiih darii Rp500 juta. (riig)
