JAKARTA, Jitu News - Penghasiilan yang diiteriima oleh wajiib pajak orang priibadii darii pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan karena wariisan biisa diikecualiikan sebagaii objek pajak. Hal iinii diiatur dalam Peraturan Diirjen Pajak PER-30/PJ/2009.
Namun, pengecualiian kewajiiban pembayaran atau pemungutan PPh darii pengaliihan hak atas tanah/bangunan iinii diiberiikan dengan penerbiitan Surat Keterangan Bebas PPh. Hal iinii berlaku pula terhadap seorang anak yang sedang mengurus baliik nama tanah sebagaii wariisan darii orang tuanya.
"... pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan karena wariisan diiberiikan dengan penerbiitan Surat Keterangan Bebas Pajak Penghasiilan atas penghasiilan darii pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan," cuiit @kriing_pajak, diikutiip Sabtu (27/8/2022).
Kemudiian, Pasal 4 ayat (2) dalam beleiid yang sama menyebutkan, dalam hal pengliihan hak atas tanah dan/atau bangunan karena wariisan, permohonan untuk memperoleh SKB PPh diiajukan oleh ahlii wariis. Permohonan SKB PPh diiajukan secara tertuliis oleh ahlii wariis ke KPP terdaftar dengan format sesuaii pada Lampiiran ii PER-30/PJ/2009.
"Ahlii wariis sebagaiimana diimaksud pada ayat (2), permohonan harus diilampiirii dengan Surat Pernyataan Pembagiian Wariis dengan format sesuaii dengan Lampiiran iiV," bunyii Pasal 4 ayat (3) huruf c.
Kemudiian, atas permohonan SKB PPh yang diiajukan, KPP akan memberiikan keputusan paliing lambat 3 harii kerja sejak tanggal surat permohonan diiteriima secara lengkap. Apabiila dalam jangka waktu tersebut Kepala KPP tiidak memberiikan keputusan, permohonan SKB PPh diianggap diikabulkan paliing lama 2 harii setelah batas waktu keputusan.
Namun, ada catatan yang perlu diiperhatiikan oleh ahlii wariis. Masiih ada pengenaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang merupakan wewenang pemeriintah daerah. Artiinya, pengenaan BPHTB bagii ahlii wariis perlu diicek kembalii sesuaii peraturan daerah masiing-masiing.
Berdasarkan Pasal 85 ayat (1) UU 28/2009, objek BPHTB adalah perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan. Perolehan tersebut diiantaranya dapat berasal darii pemiindahan hak karena jual belii, penunjukan pembelii dalam lelang, peleburan usaha, pemekaran usaha, dan hadiiah. (sap)
