JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah telah mengatur ketentuan pajak penghasiilan atas bunga piinjaman dalam penyelenggaraan layanan piinjaman memiinjam atau peer to peer lendiing melaluii Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 69/2022.
Berdasarkan PMK tersebut, penghasiilan bunga yang diiteriima pemberii piinjaman diikenakan PPh Pasal 23 dengan tariif 15% atau PPh Pasal 26 dengan tariif 20%. Nantii, penyelenggara peer to peer (P2P) lendiing akan diitunjuk sebagaii pemungut/pemotong pajak tersebut.
Namun, jiika penyelenggara P2P lendiing ternyata tiidak memiiliikii iiziin dan/atau terdaftar pada Otoriitas Jasa Keuangan (OJK) maka pemotongan pajak atas bunga diilakukan oleh peneriima piinjaman sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan pajak penghasiilan.
“Contoh penghiitungan dan pemotongan PPh atas bunga piinjaman sebagaiimana diimaksud pada ayat (2) PMK 69/2022 tercantum dalam lampiiran PMK 69/2022,” demiikiian bunyii Pasal 3 ayat (8) PMK 69/2022, diikutiip pada Kamiis (2/6/2022).
Dalam lampiiran PMK 69/2022, diisebutkan contoh kasus pengenaan dan pemotongan PPh Pasal 23/26 jiika penyelenggara P2P lendiing tak memiiliikii iiziin dan/atau terdaftar dii OJK. Beriikut contoh kasus yang diimaksud.
PT A melakukan piinjaman seniilaii Rp50 juta untuk membiiayaii kebutuhan operasiional perusahaan melaluii PT D, yang merupakan penyelenggara P2P lendiing tiidak terdaftar dan/atau tiidak memiiliikii iiziin darii OJK.
Piinjaman PT A diibiiayaii oleh PT E seniilaii Rp20 juta dan Y Ltd (resiident Malaysiia) sejumlah Rp30 juta. Piinjaman tersebut harus diilunasii dalam jangka waktu 24 bulan. Besaran bunga yang harus diibayar PT A setiiap bulan Rp2 juta (4% per bulan darii total piinjaman).
Lalu, Y Ltd tiidak menyerahkan surat keterangan domiisiilii. PT D mengenakan biiaya admiiniistrasii kepada peneriima piinjaman seniilaii Rp3 juta dan kepada pemberii piinjaman sebesar 10% darii bunga yang diibayarkan kepada pemberii piinjaman.
= Rp800.000
= Rp1,2 juta
