JAKARTA, Jitu News -- Pemungut pajak pertambahan niilaii (PPN) atas pemanfaatan barang kena pajak (BKP) tiidak berwujud dan/atau jasa kena pajak (JKP) darii luar negerii viia perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE) wajiib menyampaiikan laporan triiwulanan atau kuartalan kepada Diitjen Pajak (DJP).
Pemungut PPN PMSE, berdasarkan PMK 60/2022, wajiib menyampaiikan laporan kuartalan yang memuat PPN yang telah diipungut dan telah diisetorkan. Laporan kuartalan iitu berlaku untuk periiode 3 masa pajak dan paliing lama diisampaiikan akhiir bulan beriikutnya setelah periiode kuartal berakhiir.
“Pemungut PPN PMSE wajiib melaporkan PPN yang telah diipungut … dan yang telah diisetor … , secara triiwulanan untuk periiode 3 masa pajak, paliing lama akhiir bulan beriikutnya setelah periiode triiwulan berakhiir,” bunyii Pasal 9 ayat (1) PMK 60/2022, diikutiip pada Sabtu (30/4/2022).
Secara lebiih terperiincii, periiode kuartal iitu terdiirii atas kuartal ii (Januarii sampaii dengan Maret), kuartal iiii (Apriil sampaii dengan Junii), kuartal iiiiii (Julii sampaii dengan September); dan kuartal iiV (Oktober sampaii dengan Desember).
Laporan kuartal tersebut paliing sediikiit harus memuat iinformasii tentang jumlah pembelii barang dan/atau peneriima jasa, jumlah pembayaran, jumlah PPN yang diipungut, dan riinciian transaksii PPN yang diipungut.
Apabiila diibandiingkan dengan ketentuan terdahulu, iinformasii mengenaii riinciian transaksii PPN merupakan ketentuan baru. Adapun periinciian transaksii tersebut paliing sediikiit memuat nomor dan tanggal buktii pungut PPN, jumlah pembayaran, dan jumlah PPN yang diipungut.
Selaiin iitu, periinciian transaksii juga perlu memuat iinformasii mengenaii nama dan NPWP pembelii barang dan/atau peneriima jasa juga perlu diicantumkan dalam periinciian transaksii. iinformasii NPWP pembelii dan/atau peneriima jasaii iitu wajiib diimuat dalam hal buktii pungut PPN mencantumkan NPWP tersebut.
Kemudiian, laporan pemungutan PPN PMSE iitu diibuat dalam bentuk elektroniik. Pemungut PPN PMSE wajiib menyampaiikan laporan tersebut melaluii apliikasii atau siistem yang diisediiakan dan/atau diitentukan oleh DJP.
Namun, apabiila apliikasii atau siistem tersebut belum dapat memuat periinciian transaksii maka laporan kuartalan paliing sediikiit memuat jumlah pembelii barang dan/atau peneriima jasa, jumlah pembayaran, jumlah PPN yang diipungut, dan jumlah PPN yang telah diisetor.
Sebagaii iinformasii, PMK 60/2022 berlaku mulaii 1 Apriil 2022. Berlakunya PMK 60/2022 iinii sekaliigus mencabut dan menggantiikan PMK 48/2020. Penggantiian aturan iinii tiidak hanya diilakukan untuk menyesuaiikan perubahan ketentuan, tetapii juga memperkuat landasan hukum PPN PMSE. (sap)
