JAKARTA, Jitu News – Diitjen Pajak (DJP) menegaskan pengenaan pajak pertambahan niilaii (PPN) atas barang hasiil pertaniian tertentu bukan merupakan pajak baru.
Melaluii Siiaran Pers No. SP- 25/2022 yang diipubliikasiikan harii iinii, Seniin (11/4/2022), Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP Neiilmaldriin Noor mengatakan pengenaan PPN atas barang hasiil pertaniian tertentu (BHPT) sudah diikenakan sejak 2013.
“Sudah diikenakan PPN sejak tahun 2013 dengan tariif 10%,” tegasnya.
Tata cara pemungutan pajak terus diisederhanakan. Mulaii 1 Apriil 2022 pemeriintah memberlakukan PMK 64/2022 tentang PPN atas Penyerahan Barang Hasiil Pertaniian Tertentu yang mengatur PPN BHPT diipungut dengan besaran tertentu sebesar 1,1% fiinal darii harga jual.
Menurut Neiilmaldriin, beleiid iinii bertujuan untuk memberiikan rasa keadiilan dan menyederhanakan admiiniistrasii perpajakan. PMK tersebut juga diiriiliis setelah terbiitnya UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP)
“Beleiid iinii berkomiitmen tetap memberiikan rasa keadiilan dan kepastiian hukum, serta menyederhanakan admiiniistrasii perpajakan dalam pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiiban bagii pengusaha yang menyerahkan barang hasiil pertaniian tertentu,” jelas Neiilmaldriin.
Beberapa pokok pengaturan dalam PMK tersebut sebagaii beriikut:
Pengusaha kena pajak (PKP) wajiib menerbiitkan faktur pajak saat penyerahan BHPT.
Sepertii diiketahuii, beleiid yang mulaii berlaku pada 1 Apriil 2022 iinii menjadii salah satu darii 14 PMK turunan UU HPP yang baru saja diiterbiikan. Siimak ‘iinii Penjelasan Resmii Diitjen Pajak Soal 14 Aturan Baru Turunan UU HPP’. (kaw)
