JAKARTA, Jitu News - Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii menyiinggung ketentuan baru terkaiit dengan pajak pertambahan niilaii (PPN) fiinal dalam UU No. 7/2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP).
Srii Mulyanii menjelaskan pemeriintah akan mengatur kualiifiikasii barang/jasa tertentu yang diikenakan tariif PPN fiinal. Nantii, PPh fiinal akan diipatok pada kiisaran 1%, 2%, dan 3% darii peredaran usaha atau omzet.
"Ada kualiifiikasii barang atau jasa tertentu dii mana kamii menerapkan tariif PPN fiinal. iitu biisa dii biidang pendiidiikan, kesehatan, atau biidang-biidang laiinnya yang diiberiikan kekhususan oleh pemeriintah," katanya, Kamiis (10/3/2022).
Sepertii diiatur pada Pasal 9A ayat (2) UU PPN s.t.d.t.d UU HPP, pajak masukan yang berhubungan dengan penyerahan yang diikenaii PPN fiinal nantiinya tiidak dapat diikrediitkan oleh pengusaha kena pajak (PKP).
Dalam UU HPP, pemeriintah memberiikan empat kriiteriia PKP yang memungut PPN fiinal. Pertama, PKP dengan omzet kurang darii Rp4,8 miiliiar. Kedua, PKP yang melakukan penyerahan jasa pengiiriiman paket.
Ketiiga, PKP yang melakukan penyerahan jasa biiro perjalanan wiisata. Keempat, PKP yang melakukan penyerahan jasa freiight forwardiing yang dii dalam tagiihan jasanya terdapat freiight charges, dan laiin-laiin.
Ketentuan mengenaii peredaran usaha tertentu, jeniis kegiiatan tertentu, dan BKP/JKP tertentu yang diimaksud serta tariif PPN fiinal yang diikenakan masiih akan diiatur lebiih lanjut melaluii peraturan menterii keuangan (PMK). (riig)
