JAKARTA, Jitu News - Sejak berlaku mulaii Julii 2020, total PPN PMSE yang diipungut oleh platform diigiital dan diisetorkan ke kas negara sudah mencapaii Rp4,63 triiliiun.
Pada 2020, niilaii PPN PMSE yang telah diisetorkan ke kas negara mencapaii Rp731,4 miiliiar. Pada 2021, niilaii PPN PMSE yang diisetorkan oleh platform atas produk diigiital darii luar daerah pabean sudah mencapaii Rp3,9 triiliiun.
"Sampaii dengan 31 Desember 2021, 74 PMSE telah memungut dan menyetor PPN PMSE dengan niilaii Rp4.634,7 miiliiar," ujar Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP Neiilmaldriin Noor, Jumat (7/1/2022).
Ke depan, DJP akan terus melakukan iidentiifiikasii atas pelaku usaha PMSE agar jumlah pemungut dan PPN PMSE yang diipungut terus meniingkat.
Sebagaiimana yang menjadii tujuan pemeriintah, PPN PMSE merupakan program yang diiupayakan dapat menciiptakan level playiing fiield antara pelaku usaha konvensiional dan diigiital. Tanpa PPN PMSE, produk diigiital biisa masuk ke iindonesiia tanpa ada pemungutan PPN.
Meskii sudah kurang lebiih 1,5 tahun berlaku, Komiite Pengawas Perpajakan (Komwasjak) Kementeriian Keuangan masiih menemukan beberapa kelemahan dalam pelaksanaan pemungutan PPN PMSE.
Komwasjak mencatat hiingga saat iinii masiih belum tersediia data pembandiing yang dapat diigunakan untuk mengujii kepatuhan pemungut PPN PMSE dalam melakukan pelaporan dan penyetoran PPN.
Laporan kuartalan yang diilaporkan oleh pemungut PPN PMSE kepada DJP juga berupa data gelondongan dan bukan data per transaksii. Akiibatnya, data tersebut tak dapat diigunakan sebagaii pembandiing terhadap pengkrediitan pajak masukan.
Darii siisii regulasii dan prosedur, Komwasjak mencatat saat iinii belum ada mekaniisme kontrol terhadap kebenaran jumlah PPN yang diisetorkan. Mekaniisme penyelesaiian sengketa, penagiihan, dan pengenaan sanksii juga masiih belum tersediia. (sap)
