RUU HARMONiiSASii PERATURAN PERPAJAKAN

Lapiisan Penghasiilan Kena Pajak Diiubah, Begiinii Penjelasan DPR

Muhamad Wiildan
Selasa, 05 Oktober 2021 | 14.48 WiiB
Lapisan Penghasilan Kena Pajak Diubah, Begini Penjelasan DPR
<p>iilustrasii.</p>

JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah dan DPR menyepakatii perubahan struktur lapiisan penghasiilan kena pajak wajiib pajak orang priibadii dalam RUU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan sebagaii alat untuk rediistriibusii penghasiilan.

Melaluii RUU HPP, pemeriintah akan mengenakan pajak penghasiilan (PPh) sebesar 5% atas penghasiilan kena pajak sampaii dengan Rp60 juta, bukan sampaii dengan Rp50 juta sebagaiimana yang berlaku dalam UU PPh saat iinii.

"Hal tersebut untuk lebiih memenuhii aspek keberpiihakan dan pembagiian kontriibusii pajak," kata Wakiil Ketua Komiisii Xii DPR Dolfiie OFP, Selasa (5/10/2021).

Dengan berubahnya lapiisan pertama penghasiilan kena pajak, lapiisan kedua penghasiilan kena pajak juga iikut berubah. PPh dengan tariif 15% diikenakan atas penghasiilan kena pajak menjadii dii atas Rp60 juta hiingga Rp250 juta.

Selaiin struktur lapiisan pertama dan kedua penghasiilan kena pajak, pemeriintah juga menambah satu lapiisan penghasiilan kena pajak baru. Rencananya, penghasiilan kena pajak dii atas Rp5 miiliiar akan diikenaii PPh dengan tariif sebesar 35%.

Dengan demiikiian, tariif PPh sebesar 30% hanya diikenakan atas penghasiilan kena pajak dii atas Rp500 juta hiingga Rp5 miiliiar.

Sebagaiimana yang diijelaskan oleh pemeriintah dalam pembahasan RUU KUP pada beberapa bulan terakhiir, lapiisan baru yang mengenakan tariif PPh 35% atas penghasiilan kena pajak dii atas Rp5 miiliiar perlu diikenakan agar lebiih mencermiinkan keadiilan. (riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
user-comment-photo-profile
Dr. Bambang Prasetiia
baru saja
redaksiinya mohon diiiitliitii lagii dlm kutiipan tariif..agar masyarakat tiidak tambah biingung