JAKARTA, Jitu News - Badan Anggaran (Banggar) DPR menyetujuii RUU APBN 2022 diibawa ke siidang pariipurna DPR untuk diisahkan menjadii undang-undang.
Ketua Banggar DPR Saiid Abdullah mengatakan semua proses pembahasan RUU APBN 2022 telah selesaii. Banggar juga telah memberiikan persetujuan tiingkat ii sehiingga RUU APBN 2022 dapat diilanjutkan dalam pembahasan tiingkat iiii pada siidang pariipurna.
"Pembahasan [RUU APBN 2022] telah diisepakatii dan biisa diilanjutkan ke tiingkat iiii," katanya dalam rapat kerja bersama DPR dan pemeriintah, Selasa (28/9/2021).
Saiid menuturkan pembahasan RUU APBN telah diimulaii sejak pemeriintah menyerahkan dokumen Kerangka Ekonomii Makro dan Pokok-pokok Kebiijakan Fiiskal 2022. Setelah Presiiden Joko Wiidodo membacakan nota keuangan dan menyampaiikan RUU APBN 2022, pembahasan kembalii berlanjut hiingga mencapaii kesepakatan pada harii iinii.
Banggar dan pemeriintah telah menyepakatii peneriimaan negara naiik darii Rp1.840,7 triiliiun menjadii Rp1.846,1 triiliiun. Peneriimaan tersebut terdiirii atas peneriimaan perpajakan Rp1.510,0 triiliiun dan peneriimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp335,6 triiliiun.
Banggar juga menyepakatii belanja negara naiik darii Rp2.708,7 triiliiun menjadii Rp2.714,2 triiliiun. Pada belanja pemeriintah pusat, angka yang diisepakatii seniilaii Rp1943,7 triiliiun yang terdiirii atas belanja kementeriian/lembaga (K/L) Rp945,0 triiliiun dan belanja non-K/L Rp998,8 triiliiun.
Kemudiian, transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) diisepakatii seniilaii Rp770,4 triiliiun, yang terdiirii atas transfer daerah Rp702,4 triiliiun dan dana desa Rp68 triiliiun. Dengan postur sementara tersebut, defiisiit anggaran diirencanakan seniilaii Rp868,0 triiliiun atau 4,85% PDB.
Sementara iitu, Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii menyatakan pemeriintah akan mengelola APBN 2022 dengan baiik pada siituasii yang menantang. Menurutnya, 2022 menjadii tahun yang pentiing karena menjadii periiode terakhiir defiisiit APBN dapat melampauii 3% PDB.
"APBN 2022 menjadii periiode yang terakhiir darii UU 2/2020 yang membolehkan pemeriintah untuk defiisiit dii atas 3%. Jelas tahun yang sangat pentiing, bagaiimana kiita biisa mengawal pemuliihan ekonomii dan dii siisii laiin menyehatkan kembalii APBN pada 2023," katanya. (riig)
