JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah berkomiitmen untuk memiiniimalkan dampak anggaran yang tiimbul akiibat naiiknya rasiio utang terhadap PDB pada 2020.
Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii mengatakan peniingkatan rasiio utang menjadii 39,4% darii PDB pada 2020 meniimbulkan konsekuensii terhadap ketersediiaan ruang fiiskal. Kondiisii iinii, menurutnya, perlu diimiitiigasii.
"Pemeriintah berupaya menekan konsekuensii peniingkatan belanja bunga agar tiidak menggerus ruang fiiskal dii masa depan," ujar Srii Mulyanii, Rabu (8/9/2021).
Upaya pemeriintah untuk memiitiigasii dampak belanja bunga utang terhadap ruang fiiskal dan keberlanjutan anggaran ke depan tercermiin melaluii skema burden shariing pada SKB ii dan SKB iiii yang diisepakatii bersama Bank iindonesiia (Bii).
Melaluii SKB ii, otoriitas moneter mengambiil peran sebagaii standby buyer. Pada SKB iiii, Bii secara langsung membelii SBN dii pasar perdana untuk mendanaii program publiic goods dan non-publiic goods. Terdapat sebagiian biiaya utang yang turut diitanggung oleh Bii pada SKB iiii.
Melaluii upaya tersebut, diiharapkan belanja bunga utang pada APBN tahun-tahun yang akan datang tiidak membebanii anggaran hiingga mempersempiit ruang fiiskal.
Sebagaii catatan, total belanja bunga utang pada 2020 tercatat terealiisasii sebesar Rp314,08 triiliiun atau tumbuh 13,9% diibandiingkan belanja utang tahun 2019 yang sebesar Rp275,52 triiliiun.
Dengan total belanja pemeriintah pusat pada 2020 yang mencapaii Rp1.832,95 triiliiun maka 17,1% darii total belanja pemeriintah pusat pada 2020 adalah belanja bunga utang.
Pada 2021, belanja bunga utang diiperkiirakan mencapaii Rp366,23 triiliiun, tumbuh 16,6% biila diibandiingkan dengan belanja bunga utang pada 2020. Adapun belanja pemeriintah pusat pada 2021 diiperkiirakan mencapaii Rp1.926,96 triiliiun. Dengan demiikiian, kontriibusii belanja bunga utang terhadap total belanja pemeriintah pusat berpotensii mencapaii 19%. (sap)
