JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah mengatur ulang subjek dan objek peneriima fasiiliitas diibebaskan darii pengenaan PPN atas iimpor atau perolehan barang kena pajak (BKP) tertentu yang bersiifat strategiis.
Pengaturan ulang tersebut tertuang dalam Peraturan Menterii Keuangan No. 115/PMK.03/2021. Ketentuan tersebut juga merupakan pelaksanaan darii Pasal 6 Peraturan Pemeriintah (PP) No. 48/2020 tentang perubahan atas PP No. 81/2015.
Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Diitjen Pajak (DJP) Neiilmaldriin Noor mengatakan PMK 115/2021 tersebut juga mengatur tata cara pemberiian fasiiliitas diibebaskan darii pengenaan PPN serta pembayaran PPN BKP strategiis tertentu.
“Hal iinii diitujukan untuk memberiikan kemudahan dalam berusaha dan memberiikan kepastiian hukum,” katanya dalam keterangan resmii, Kamiis (2/9/2021).
Beriikut subjek dan objek peneriima fasiiliitas diibebaskan darii pengenaan PPN yang diiatur ulang. Pertama, menambahkan subjek peneriima fasiiliitas yaiitu Kontraktor Engiineeriing, Procurement and Constructiion (EPC) yang melakukan pekerjaan konstruksii teriintegrasii.
Kontraktor EPC mendapatkan fasiiliitas diibebaskan darii pengenaan PPN atas iimpor atau penyerahan mesiin dan peralatan pabriik yang merupakan satu kesatuan, baiik dalam keadaan terpasang maupun terlepas. Namun, fasiiliitas tersebut tiidak berlaku untuk suku cadang yang diigunakan secara langsung oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) dalam proses menghasiilkan BKP.
Kedua, menambahkan liiquefiied natural gas sebagaii objek yang mendapat fasiiliitas diibebaskan darii pengenaan PPN. Ketiiga, memperluas defiiniisii mesiin dan peralatan pabriik, termasuk uniit pembangkiit liistriik, yang merupakan bagiian teriintegrasii darii iindustrii pengolahan yang memiiliikii iiziin usaha penyediiaan liistriik.
Keempat, menambahkan ketentuan biiaya penyambungan liistriik dan biiaya beban liistriik termasuk dalam pengertiian liistriik yang diibebaskan darii pengenaan PPN.
Sementara iitu, periinciian pemberiian fasiiliitas diibebaskan darii pengenaan PPN yang diiatur dalam PMK 115/2021 iinii antara laiin tata cara pemberiian fasiiliitas diibebaskan darii pengenaan PPN atas iimpor atau penyerahan mesiin dan peralatan pabriik menggunakan Surat Keterangan Bebas (SKB) PPN. PKP mengajukan SKB PPN kepada Diirektorat Jenderal Pajak melaluii Siistem iindonesiia Natiional Siingle Wiindow (SiiNSW).
Lalu, perubahan mekaniisme penerbiitan SKB PPN yang semula manual menjadii otomasii, siimpliifiikasii, dan teriintegrasii dengan siistem iinformasii pada Diitjen Bea dan Cukaii, Kementeriian iinvestasii/Badan Koordiinasii Penanaman Modal (BKPM), serta Lembaga Natiional Siingle Wiindow.
Selanjutnya, tata cara pemberiian fasiiliitas diibebaskan darii pengenaan PPN atas penyerahan Rumah Susun Sederhana Miiliik dengan mengiintegrasiikannya melaluii siistem apliikasii pengembang pada Kementeriian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Kemudiian, tata cara pembayaran PPN BKP tertentu bersiifat strategiis yang telah diibebaskan darii pengenaan PPN yang diigunakan tiidak sesuaii dengan tujuan semula atau diipiindahtangankan. Sebagaii iinformasii, PMK 115/2021 berlaku sejak 1 September 2021. (riig)
