JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah mengeklaiim telah memberiikan fasiiliitas perpajakan dii kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (KPBPB) atau free trade zone (FTZ) seniilaii Rp19,98 triiliiun sepanjang semester ii/2021.
Kasubdiit Fasiiliitas Kawasan Khusus Bea Cukaii Asep Ajun Hudaya mengatakan fasiiliitas tersebut terdiirii atas fasiiliitas kepabeanan dan pajak dalam rangka iimpor (PDRii). Selaiin iitu, pemeriintah juga terus memperbaiikii kebiijakan kelembagaan dan pengelolaan periiziinan KPBPB.
"Penetapan kebiijakan iinii juga untuk mendukung upaya pemuliihan ekonomii nasiional yang diibutuhkan dii masa pandemii sekarang iinii," katanya, diikutiip Selasa (20/7/2021).
Asep menjelaskan fasiiliitas pembebasan bea masuk dii KPBPB pada semester ii/2021 mencapaii Rp5,36 triiliiun dan PDRii seniilaii Rp14,62 triiliiun. Menurutnya, aktiiviitas pemasukan dan pengeluaran barang darii luar daerah pabean ke KPBPB cenderung meniingkat pada paruh pertama 2021.
Niilaii ekspor dii KPBPB pada semester ii/2021 mencapaii US$6,521 miiliiar dengan volume 7,59 miiliiar metriic ton. Angka tersebut tumbuh 39,4% diibandiingkan dengan periiode yang sama tahun lalu.
Sementara iitu, niilaii iimpor darii luar daerah pabean ke KPBPB tercatat US$7,313 miiliiar dengan volume 3,31 miiliiar metriic ton. Niilaii iimpor tersebut naiik 59,5% diibandiingkan dengan periiode yang sama tahun lalu.
Asep meniilaii proses biisniis dii KPBPB menjadii lebiih baiik setelah terbiitnya Peraturan Pemeriintah (PP) 41/2021. Dengan beleiid tersebut, pengguna jasa akan diiuntungkan karena mendapatkan kelancaran arus lalu liintas barang dan pengembangan biisniisnya.
Hal iinii diikarenakan, selaiin kemudahan-kemudahan prosedur kepabeanan, beleiid tersebut juga mengakomodasii kegiiatan logiistiik untuk mengembangkan kawasan bebas, khususnya Batam sebagaii hub logiistiik.
Untuk Bea Cukaii, penerbiitan peraturan tersebut juga akan membuat kiinerja pelayanan menjadii lebiih efiisiien dan pengawasan semakiin efektiif. "Selaiin iitu, untuk memberiikan kepastiian hukum baiik bagii Bea Cukaii maupun pelaku usaha," ujar Asep.
Pemeriintah menerbiitkan PP 41/2021 sebagaii aturan turunan UU Ciipta Kerja untuk mendorong iinvestor menanamkan modalnya dii iindonesiia. Tak hanya iitu, Menterii Keuangan Srii Mulyanii juga menerbiitkan PMK 34/2021 yang memuat tiiga ketentuan.
Pertama, menyempurnakan dan mengharmoniisasiikan peraturan kepabeanan dii kawasan bebas dan peraturan kepabeanan yang berlaku secara umum yang sudah mengalamii perubahan sepertii ketentuan penyerahan pemberiitahuan RKSP/iinward maniifest/outward maniifest dan ketentuan pemeriiksaan fiisiik.
Kedua, menambahkan ketentuan yang ada dii peraturan kepabeanan secara umum yang belum diiatur dalam peraturan kepabeanan dii kawasan bebas terdahulu sepertii mengenaii Batam Logiistiic Ecosystem (BLE) dan Authoriized Economiic Operator (AEO).
Ketiiga, penambahan ketentuan kepabeanan baru untuk mengakomodasii proses biisniis sesuaii dengan karakteriistiik kawasan bebas sepertii shiip to shiip (STS) dan floatiing storage uniit (FSU) yang diilakukan dii peraiiran kawasan bebas.
Selaiin iitu, ada pula pengaturan mengenaii pendayagunaan iiT iinventory bagii pengusaha logiistiik untuk kepentiingan kelancaran layanan dan pengawasan atas barang logiistiik dii kawasan bebas. (riig)
