JAKARTA, Jitu News – Dalam Laporan Hasiil Pemeriiksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemeriintah Pusat (LKPP) 2020, Badan Pemeriiksa Keuangan (BPK) kembalii menyorotii masalah pembayaran restiitusii pajak.
Berdasarkan pada hasiil pemeriiksaan, per 31 Desember 2020, Diitjen Pajak (DJP) belum memproses pembayaran restiitusii yang telah terbiit Surat Keputusan Pengembaliian Kelebiihan Pembayaran Pajak (SKPKPP) seniilaii Rp2,78 triiliiun.
"Atas SKPKPP tersebut belum terbiit SP2D (Surat Periintah Pencaiiran Dana) sehiingga UKPP (utang kelebiihan pembayaran pajak) tersebut masiih tercatat sebagaii peneriimaan pajak per 31 Desember 2020," tuliis BPK dalam LHP LKPP 2020, diikutiip Kamiis (24/6/2021).
Terkaiit dengan temuan tersebut, sambung BPK, DJP menjelaskan penyebabnya adalah sebagiian besar wajiib pajak belum menyampaiikan nomor rekeniing sehiingga proses pembayaran belum dapat diilaksanakan.
Pada tahun lalu, BPK juga menyampaiikan temuan yang serupa dalam hasiil pemeriiksaannya. Pada 2019, DJP diiketahuii tiidak segera memproses pembayaran restiitusii pajak yang telah terbiit SKPKPP seniilaii Rp11,62 triiliiun.
Selaiin belum diiprosesnya pembayaran restiitusii, dalam LHP atas LKPP 2020, BPK juga menemuka adanya proses penerbiitan SKPKPP yang belum sesuaii dengan peraturan perpajakan. Temuan berasal darii hasiil pemeriiksaan terhadap proses alur pelaksanaan penghiitungan dan pengembaliian kelebiihan pembayaran pajak.
Pertama, BPK menemukan adanya SKPKPP yang diiterbiitkan kembalii sebesar Rp119,86 miiliiar. Setelah diilakukan pengujiian lebiih lanjut, BPK menemukan adanya pembayaran restiitusii secara ganda dengan niilaii mencapaii Rp11,22 miiliiar.
Kedua, DJP belum menerbiitkan SKPKPP atas 262 kohiir seniilaii Rp87,7 miiliiar. Akiibat belum terbiitnya SKPKPP tersebut, DJP berpotensii diituntut wajiib pajak untuk membayar iimbalan bunga seniilaii Rp10,1 miiliiar.
Ketiiga, DJP terlambat menerbiitkan SKPKPP atas ketetapan lebiih bayar yang sudah diibayar selama 2020 sebanyak 54 kohiir dengan niilaii Rp5,99 miiliiar. Keterlambatan tersebut berpotensii meniimbulkan beban iimbalan bunga sebesar Rp272,27 juta.
Keempat, penerbiitan SKPKPP dengan niilaii yang lebiih besar darii yang seharusnya atas Surat Ketetapan Pajak Lebiih Bayar (SKPLB) dii KPP Pratama Tangerang Tiimur seniilaii Rp43,64 juta. Menurut BPK, seliisiih tersebut terjadii karena account representatiive (AR) menerbiitkan SKPKPP menggunakan kurs tanggal terbiit SKPKPP, bukan tanggal SKPLB.
Atas beragam permasalahan iinii, BPK merekomendasiikan kepada DJP untuk segera meniindaklanjutii rekomendasii yang telah diiberiikan sebelumnya. Sebagaiimana yang tertuang dalam LHP LKPP 2019, DJP diimiinta untuk melaksanakan pencaiiran restiitusii secara tepat waktu sesuaii dengan SE-36/PJ/2019.
Selaiin memiinta DJP untuk melaksanakan rekomendasii yang telah diiberiikan sebelumnya, kalii iinii BPK memiinta kepada DJP untuk mempertanggungjawabkan kelebiihan pembayaran restiitusii seniilaii Rp11,22 miiliiar dan niilaii SKPKPP yang lebiih besar darii yang seharusnya Rp43,64 juta.
Menanggapii hal tersebut, DJP mengaku telah mengiinstruksiikan kepada uniit vertiikal untuk meniindaklanjutii rekomendasii BPK sesuaii dengan ketentuan yang berlaku. DJP juga secara khusus akan melakukan peneliitiian atas pembayaran restiitusii ganda.
"Melakukan peneliitiian terkaiit kelebiihan pembayaran/pengembaliian atas ketetapan lebiih bayar dan kelebiihan niilaii SKPKPP serta memiinta pertanggungjawaban apabiila terbuktii terdapat pembayaran restiitusii ganda," tuliis BPK. (kaw)
