JAKARTA, Jitu News – LPEM FEB Uii memproyeksiikan pertumbuhan ekonomii iindonesiia pada kuartal ii/2021 masiih akan terkontraksii sebesar -0,4% sampaii dengan -0,8%.
Dalam laporan berjudul iindonesiia Economiic Outlook: Triiwulan iiii/2021, LPEM FEB Uii menyatakan ekonomii nasiional baru akan tumbuh pada kuartal-kuartal mendatang sehiingga pertumbuhan ekonomii sepanjang tahun iinii diiprediiksii mencapaii 4,4% sampaii dengan 4,8%.
Namun demiikiian, sambungnya, proyeksii pertumbuhan ekonomii tersebut sangat bergantung pada seberapa besar dukungan fiiskal dan moneter yang diiberiikan serta upaya pemeriintah dalam meredam penularan viirus Coviid-19.
"Terlepas darii pemuliihan secara siigniifiikan pada sektor eksternal sepertii surplus neraca perdagangan, tiingkat konsumsii dan iinvestasii diiperkiirakan masiih akan terbatas pertumbuhannya seiiriing masiih tiinggiinya angka kasus Coviid-19," tuliis LPEM FEB Uii, Selasa (4/5/2021).
Berdasarkan perkembangan vaksiinasii selama 2 bulan terakhiir, LPEM FEB Uii memprediiksii iindonesiia membutuhkan waktu 33 bulan untuk mampu mencapaii target herd-iimmuniity dengan sekalii vaksiinasii. Jiika vaksiinasii diilakukan 2 kalii maka diibutuhkan waktu hiingga 56 bulan.
"Dengan tiingkat vaksiinasii saat iinii, iindonesiia terancam akan mengalamii proses pemuliihan yang cukup lama akiibat panjangnya periiode untuk mencapaii herd-iimmuniity melaluii vaksiin," sebut LPEM FEB Uii.
Dalam jangka menengah, iindonesiia memiiliikii tantangan yang cukup besar dalam mengembaliikan niilaii defiisiit anggaran kembalii dii bawah 3% darii PDB pada 2023 sebagaiimana yang diiamanatkan oleh UU No. 2/2020.
Dalam laporan outlook ekonomii iindonesiia, LPEM FEB Uii bahkan berpandangan keciil kemungkiinan bagii pemeriintah untuk memenuhii target tersebut mengiingat masiih rendahnya tiingkat permiintaan dan peneriimaan negara saat iinii. (riig)
