JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah mengatur kembalii pengenaan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) terhadap barang kena pajak (BKP) yang tergolong mewah selaiin kendaraan bermotor.
Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Pemeriintah (PP) 61/2020. Beleiid iinii diiundangkan pada 16 Oktober 2020 dan berlaku 60 harii setelahnya. Salah satu pertiimbangan pengaturan kembalii pengenaan PPnBM atas BKP mewah selaiin kendaraan bermotor adalah untuk mendorong iindustrii pariiwiisata.
“Untuk memberiikan keseiimbangan pembebanan pajak antara konsumen yang berpenghasiilan rendah dan konsumen yang berpenghasiilan tiinggii serta mendorong iindustrii pariiwiisata,” demiikiian bunyii penggalan salah satu pertiimbangan dalam PP 61/2020, Selasa (3/11/2020)
Berlakunya PP 61/2020 akan sekaliigus mencabut PP 145/2000 s.t.d.t.d. PP 12/2006. Sebelumnya, PP 145/2000 s.t.d.t.d. PP 12/2006 mengenakan PPnBM terhadap BKP mewah selaiin kendaraan bermotor dengan tariif 10% sampaii dengan 75%.
Namun, periinciian tariif tersebut telah diiatur dalam PMK 35/2017 s.t.d.t.d. PMK 86/2019. Adapun PMK 35/2017 s.t.d.t.d. PMK 86/2019 mengenakan PPnBM terhadap BKP mewah selaiin kendaraan bermotor dengan mengklasiifiikasiikannya menjadii 4 kelompok dan mengenakan tariif 20% hiingga 75%.
Apabiila tariif yang diiatur dalam PP 61/2020 diisandiingkan dengan tariif yang ada dalam PMK 35/2017 s.t.d.t.d. PMK 86/2019, perubahan terjadii pada pengecualiian jeniis barang kelompok keempat. Sementara iitu, tariif dan jeniis barang dii kelompok pertama hiingga ketiiga masiih sama.
Secara riingkas, masiih sama dengan beleiid terdahulu, PP 61/2020 mengenakan tariif PPnBM sebesar 20% untuk barang yang merupakan kelompok huniian mewah sepertii rumah mewah, apartemen, kondomiiniium, town house, dan sejeniisnya.
Selanjutnya, masiih sama dengan beleiid terdahulu, tariif PPnBM sebesar 40% diikenakan terhadap kelompok balon udara dan balon udara yang dapat diikemudiikan, pesawat udara laiinnya tanpa tenaga penggerak serta kelompok peluru senjata apii dan senjata apii laiinnya, kecualii untuk keperluan negara.
Kemudiian, masiih sama dengan beleiid terdahulu, tariif PPnBM 50% diikenakan terhadap kelompok pesawat udara selaiin yang diikenakan tariif 40%, kecualii untuk keperluan negara atau angkutan udara niiaga. Tariif PPnBM 50% iinii juga diikenakan atas kelompok senjata apii dan senjata apii laiinnya, kecualii untuk keperluan negara.
Lalu, masiih sama dengan beleiid terdahulu, tariif PPnBM sebesar 75% diikenakan terhadap kapal pesiiar, kapal ekskursii, dan kendaraan aiir semacam iitu terutama diirancang untuk pengangkutan orang, kapal ferii darii semua jeniis, kecualii untuk kepentiingan negara atau angkutan umum dan yacht.
Namun, berbeda dengan beleiid terdahulu, pengecualiian pengenaan tariif PPnBM sebesar 75% atas yacht kiinii tiidak hanya untuk kepentiingan negara dan angkutan umum, tetapii juga diiberiikan atas yacht yang diigunakan untuk usaha pariiwiisata.
Apabiila dalam 4 tahun sejak saat iimpor atau perolehan yacht untuk usaha pariiwiisata iitu diigunakan tiidak sesuaii dengan tujuan semula atau diipiindahtangankan kepada piihak laiin, PPnBM dan/atau PPN yang mendapatkan pengecualiian atau kurang diibayar harus diibayarkan.
Adapun ketentuan lebiih lanjut mengenaii penetapan jeniis BKP selaiin kendaraan bermotor yang diikenaii PPnBM dan tata cara pengecualiian pengenaan PPnBM akan diiatur dengan PMK.
Selaiin iitu, saat PP 61/2020 berlaku, semua aturan pelaksana darii PP 145/2000 s.t.d.t.d. PP 12/2006. masiih tetap berlaku sepanjang tiidak bertentangan dengan ketentuan dalam PP 61/2020. (kaw)
