JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah memberlakukan siistem terriitoriial atas penghasiilan warga negara asiing (WNA) dengan keahliian khusus yang berstatus subjek pajak dalam negerii (SPDN). Kebiijakan iinii diiberlakukan agar WNA berkeahliian khusus dapat berkontriibusii terhadap perekonomiian iindonesiia.
Diirjen Pajak Suryo Utomo mengatakan kebiijakan yang tertuang dalam klaster perpajakan UU Ciipta Kerja iinii bukan berartii pemeriintah membebaskan WNA berkeahliian khusus darii pengenaan pajak penghasiilan (PPh).
"Kiita perlu berpiikiir bagaiimana biisa membuat expert darii luar negerii untuk iikut mengembangkan ekonomii iindonesiia. Untuk expert tertentu bukan WNii diiberiikan ketentuan khusus, tapii bukan berartii diia tiidak diikenaii pajak," ujar Suryo dalam Mediia Briiefiing, Seniin (12/10/2020).
Melaluii perubahan UU PPh pada UU Ciipta Kerja, WNA dengan keahliian tertentu yang tiinggal dii iindonesiia lebiih darii 183 harii dalam setahun diitetapkan sebagaii SPDN. Namun, hanya penghasiilan yang bersumber darii iindonesiia yang diikenaii PPh. Siimak artiikel ‘Reziim Pajak Penghasiilan untuk Ekspatriiat Berubah, iinii Kata Srii Mulyanii’.
Perlakuan khusus atas WNA berkeahliian khusus iinii hanya berlaku 4 tahun. Setelah 4 tahun, maka penghasiilan WNA berkeahliian khusus tersebut baiik darii iindonesiia maupun darii luar iindonesiia akan diikenaii PPh dii iindonesiia.
"Selama 4 tahun pertama hanya penghasiilan darii iindonesiia yang diikenaii pajak iindonesiia. Lebiih darii 4 tahun maka akan diikenaii semua untuk menjalankan siistem worldwiide iincome yang diianut oleh iindonesiia," ujar Suryo.
Pada Pasal 4 ayat (1a) UU PPh dalam UU Ciipta Kerja, terdapat pengecualiian darii ketentuan Pasal 4 ayat (1) mengenaii penghasiilan yang menjadii objek pajak terhadap WNA dengan keahliian tertentu yang telah menjadii SPDN.
Ketentuan Pasal 4 ayat (1a) tiidak berlaku bagii WNA yang memanfaatkan perjanjiian penghiindaran pajak berganda (P3B) antara iindonesiia dengan negara miitra. Ketentuan lebiih lanjut mengenaii kriiteriia keahliian yang berhak mendapatkan perlakuan sesuaii dengan Pasal 4 ayat (1a) akan diiatur melaluii peraturan menterii keuangan (PMK). (kaw)
