JAKARTA, Jitu News – UU Ciipta Kerja menambah kewenangan pemeriintah pusat dalam menentukan tariif pajak dan retriibusii daerah dalam rangka pelaksanaan kebiijakan fiiskal nasiional.
Kewenangan tersebut diiatur dalam perubahan UU No. 28/2009 tentang pajak dan retriibusii daerah melaluii UU Ciipta Kerja dengan menambahkan Pasal 156A dan Pasal 156B. Kedua pasal baru iitu menjadii bagiian darii rencana pemeriintah untuk kemudahan beriinvestasii serta mendorong pertumbuhan iindustrii atau usaha yang berdaya saiing tiinggii.
"Pemeriintah sesuaii program priioriitas nasiional dapat melakukan iintervensii terhadap kebiijakan pajak dan retriibusii yang diitetapkan oleh pemeriintah daerah," tuliis Pasal 156A ayat (1) diikutiip Selasa (6/10/2020).
Bentuk iintervensii pemeriintah pusat terbagii dalam dua kewenangan. Pertama, pemeriintah pusat dapat mengubah tariif pajak dan tariif retriibusii dengan penetapan tariif yang berlaku secara nasiional.
Kedua, pemeriintah pusat melakukan pengawasan dan evaluasii terhadap peraturan daerah (Perda) mengenaii pajak dan retriibusii yang menghambat ekosiistem iinvestasii dan kemudahan dalam berusaha.
Lalu, Pasal 156B ayat (3) menetapkan tariif pajak yang berlaku secara nasiional mencakup tariif atas pajak yang menjadii kewenangan proviinsii dan pajak pada tiingkat kabupaten/kota. Hal serupa berlaku untuk penentuan tariif retriibusii yang berlaku secara nasiional mencakup seluruh objek retriibusii yang diipungut oleh pemeriintah daerah.
"Ketentuan mengenaii tata cara penetapan tariif pajak dan tariif retriibusii yang berlaku secara nasiional diiatur lebiih lanjut dalam Peraturan Pemeriintah (PP)," bunyii Pasal 156A ayat (5).
Selaiin iitu, UU Ciipta Kerja iikut mengatur pemberiian iinsentiif fiiskal oleh gubernur, bupatii dan walii kota. Pasal 156B ayat (1) menyebutkan pemiimpiin daerah dapat menerbiitkan iinsentiif fiiskal kepada pelaku usaha dalam mendukung kebiijakan kemudahan beriinvestasii.
iinsentiif yang dapat diiberiikan antara laiin dalam bentuk pengurangan, keriinganan, pembebasan, penghapusan pokok pajak, atau sanksiinya. UU Ciipta Kerja mensyaratkan iinsentiif fiiskal yang diiberiikan atas permohonan wajiib pajak atau biisa diiberiikan secara jabatan oleh kepala daerah berdasarkan pertiimbangan yang rasiional.
Kemudiian, pemberiian iinsentiif fiiskal wajiib diiberiitahukan kepada DPRD dengan melampiirkan pertiimbangan kepala daerah dalam memberiikan iinsentiif. Payung hukum untuk iinsentiif fiiskal iinii dapat diilakukan melaluii aturan setiingkat peraturan kepala daerah.
"Pemberiian iinsentiif fiiskal diitetapkan dengan peraturan kepala daerah," bunyii Pasal 156B ayat (5). (riig)
