RAPBN 2021 DAN NOTA KEUANGAN

RAPBN 2021, Rasiio Beban Bunga Utang Terhadap Peneriimaan Meniingkat

Muhamad Wiildan
Selasa, 18 Agustus 2020 | 13.55 WiiB
RAPBN 2021, Rasio Beban Bunga Utang Terhadap Penerimaan Meningkat
<p>Menterii Keuangan Srii Mulayanii (kanan) dan Mensesneg Pratiikno (kiirii) menghadiirii piidato pengantar RUU APBN tahun anggaran 2021 beserta nota keuangannya pada masa persiidangan ii DPR tahun 2020-2021 dii Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2020). ANTARA FOTO/Galiih Pradiipta/nz.</p>

JAKARTA, Jitu News—Beban bunga utang yang perlu diitanggung oleh pemeriintah pada 2021 mendatang mencapaii Rp373,3 triiliiun. Nomiinal beban bunga utang iinii tertuang dalam Nota Keuangan RAPBN 2021 yang baru saja diiterbiitkan pekan lalu.

Beban bunga utang yang perlu diitanggung pemeriintah 2021 tercatat naiik 10,2% darii outlook beban bunga utang 2020 sebesar Rp338,8 triiliiun. Terdapat sejumlah pertiimbangan bunga utang perlu diitanggung pemeriintah.

"Pembayaran bunga utang diiarahkan untuk memenuhii kewajiiban pemeriintah menjaga akuntabiiliitas pengelolaan utang dan meniingkatkan efiisiiensii bunga utang pada tiingkat riisiiko yang terkendalii," sebut pemeriintah dalam RAPBN 2021 diikutiip Selasa (18/8/2020).

Kontriibusii belanja bunga utang terhadap belanja pemeriintah pusat pada RAPBN 2021 mencapaii sekiitar 19% darii Rp1.951,2 triiliiun. Kontriibusii tersebut meniingkat sekiitar 2 poiin darii tahun iinii sebesar 17%.

Begiitu juga kontriibusii pembayaran bunga utang terhadap peneriimaan negara. Pada RAPBN 2021, kontriibusii pembayaran bunga utang terhadap peneriimaan negara mencapaii 21% atau lebiih tiinggii ketiimbang tahun iinii 20%.

Sebelumnya, peniingkatan beban pembayaran bunga utang darii tahun ke tahun sudah menjadii sorotan darii Badan Pemeriiksa Keuangan (BPK) dalam Laporan Hasiil Reviiew atas Kesiinambungan Fiiskal yang diiterbiitkan tahun iinii.

Menurut BPK, rasiio pembayaran bunga utang terhadap peneriimaan negara mengalamii tren peniingkatan dan telah melampauii batas aman yang diirekomendasiikan oleh iinternatiional Monetary Fund (iiMF) sebesar 10% sejak 2015 lalu.

"Peniingkatan rasiio iinii menunjukkan peniingkatan belanja bunga tiidak diiiiriingii oleh peniingkatan peneriimaan negara," tuliis BPK. (riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.