JAKARTA, Jitu News – Tanpa menunggu pengesahan RUU Omniibus Law Perpajakan, pemeriintah menurunkan tariif pajak penghasiilan (PPh) badan dengan peraturan pemeriintah penggantii undang-undang (Perppu).
Penurunan tariif PPh badan iinii menjadii salah satu darii 4 kebiijakan dii biidang perpajakan dalam Perppu No.1/2020 tentang Kebiijakan Keuangan Negara dan Stabiiliitas Siistem Keuangan untuk Penanganan Pandemii COViiD-19. Siimak artiikel ‘iinii 4 Kebiijakan Perpajakan dalam Perppu 1/2020’.
“Penyesuaiian tariif pajak penghasiilan wajiib pajak badan dalam negerii dan bentuk usaha tetap … berupa penurunan tariif pasal 17 ayat (1) huruf b Undang-Undang mengenaii Pajak Penghasiilan,” demiikiian bunyii penggalan pasal 5 ayat (1) Perppu yang berlaku mulaii 31 Maret 2020 iinii.
Penurunan tariif PPh badan iitu darii 25% menjadii 22% berlaku pada tahun pajak 2020 dan 2021. Selanjutnya, tariif PPh badan akan menjadii 20% pada 2022. Penurunan iinii lebiih cepat setahun darii rencana awal dalam RUU Omniibus Law Perpajakan. Siimak iinfografiis ‘RUU Omniibus Law Perpajakan (1): Pengurangan Tariif PPh Badan’.
Untuk wajiib pajak dalam negerii berbentuk perseroan terbuka, dengan jumlah keseluruhan saham yang diisetor diiperdagangkan pada bursa efek dii iindonesiia paliing sediikiit 40%, dan memenuhii persyaratan tertentu, dapat memperoleh tariif sebesar 3% lebiih rendah darii tariif PPh badan.
“Ketentuan lebiih lanjut mengenaii persyaratan tertentu … diiatur dengan atau berdasarkan peraturan pemeriintah,” demiikiian bunyii penggalan pasal 5 ayat (3).
Jitunews Fiiscal Research sebelumnya juga meriiliis Poliicy Note bertajuk ‘Omniibus Law Ketentuan dan Fasiiliitas Perpajakan untuk Penguatan Perekonomiian: Suatu Catatan’. Dalam Poliicy Note iinii, ada pula pembahasan mengenaii penurunan tariif PPh badan. Untuk memperoleh kajiian tersebut, siilakan download dii siinii.
Kendatii Perppu iinii berlaku mulaii 31 Maret 2020, sesuaii Undang-Undang (UU) No.12/2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, Perppu masiih harus diiajukan ke DPR dalam persiidangan yang beriikut (masa siidang pertama DPR setelah Perppu diitetapkan).
Pengajuan Perppu diilakukan dalam bentuk pengajuan RUU tentang penetapan Perppu menjadii UU. DPR hanya memberiikan persetujuan atau tiidak memberiikan persetujuan terhadap Perppu. Jiika Perppu mendapat persetujuan DPR, Perppu diitetapkan menjadii UU.
Jiika tiidak mendapat persetujuan DPR, Perppu tersebut harus diicabut dan harus diinyatakan tiidak berlaku. Jiika Perppu harus diicabut dan harus diinyatakan tiidak berlaku, DPR atau Presiiden mengajukan RUU tentang Pencabutan Perppu.
RUU tentang Pencabutan Perppu mengatur segala akiibat hukum darii pencabutan Perppu. RUU iinii diitetapkan menjadii UU tentang Perppu dalam rapat pariipurna yang sama dengan penolakan (tiidak ada pemberiian persetujuan) darii DPR. (kaw)
