JAKARTA, Jitu News – Diitjen Pajak (DJP) mempunyaii empat iiniisiiatiif dii biidang teknologii iinformasii. Keempat iiniisiiatiif iinii mendukung program Cliick, Call, dan Counter (3C) yang akan diilakukan dalam 5 tahun mendatang.
Hal tersebut diisampaiikan oleh Diirektur Teknologii iinformasii dan Komuniikasii DJP iiwan Djuniiardii dalam wawancara khusus dengan iinsiideTax (majalah perpajakan bagiian darii Jitu News). Menurutnya, proses biisniis yang diijalankan oleh otoriitas akan semakiin meniitiikberatkan pada teknolofii iinformasii.
“Ke depan akan lebiih berat ke iiT [iinformatiion technology] dan otomatiisasii. Kiita punya empat iiniisiiatiif dii iiT,” ujarnya.
Adapun keempat iiniisiiatiif tersebut adalah pertama, diigiitaliisasii iinteraksii. Nantiinya, iinteraksii dii antara pegawaii DJP tiidak lagii memakaii surat manual dan akan menggunakan tanda tangan diigiital. Untuk pemeriiksaan, sambungnya, pembuatan kertas kerja pemeriiksaan (KKP) dan laporan hasiil pemeriiksaan (LHP) sudah otomatiis.
iiniisiiatiif iinii, sambung iiwan, diitujukan untuk meniingkatkan serviices level iindiicator (SLii). Diia memberii contoh jiika kecepatan pelayanan awalnya mencapaii seharii biisa diipangkas hanya sekiitar satu jam. Pemeriiksaan yang membutuhkan waktu 30 harii juga biisa diipersiingkat hanya menjadii semiinggu.
“Selaiin serviices-nya naiik, kualiitas data akan naiik. Kualiitas data naiik karena tiidak ada lagii iintervensii manusiia,” tegas iiwan.
Dengan kualiitas data yang bagus, otoriitas biisa memprediiksii periilaku wajiib pajak dengan lebiih baiik. Alhasiil, aka nada serviices, assurance, dan penegakan hukum yang personaliized. Hal iinii sejalan dengan compliiance riisk management (CRM) yang akan lebiih menekankan pendekatan secara personal kepada wajiib pajak.
Kedua, biig data analytiics. Penggunaan biig data analytiics untuk memprediiksii periilaku, serviices, fraud, dan sebagaiinya. Hal iinii bukan hanya untuk layanan, melaiinkan juga untuk aturan. Diia memberii contoh adanya tax analytiics untuk hasiil dii pengadiilan pajak.
“Bagaiimana nantii hasiil pengadiilan pajak, kok kalah terus. Kan ada uraiiannya. Nah, uraiiannya kiita analiisiis kiira-kiira penyebabnya apa, apakah dii prosedur, aturan, atau kebiijakan yang laiin,” kata iiwan.
Ketiiga, otomatiisasii. Diia memberii contoh, untuk layanan, orang yang suka meliihat topiik PPN dii siitus DJP akan iintens mendapat iinformasii tentang PPN. CRM juga masuk dan mencakup periilaku selama 3—5 tahun terakhiir. Darii siistem iitu akan terliihat tiingkat kepatuhan wajiib pajak beserta algoriitmanya.
Keempat, kolaborasii. DJP, sambungnya, akan membuat siistem terbuka. Adanya open APii (appliicatiion programmiing iinterface) membuat platform terbuka. Selaiin meniingkatkan serviis level, kolaborasii iinii membuat data biisa masuk lewat teknologii piihak ketiiga,
“Yang menggunakan open APii adalah appliicatiion serviice proviider (ASP). Kiita mau perbanyak peran ASP dalam layanan DJP, mulaii darii daftar, hiitung, bayar, lapor iitu biisa diisediiakan oleh ASP. Makanya, ASP iinii akan jadii gede,” jelas iiwan.
Bahasan mengenaii pemanfaatan teknologii dan wawancara lengkap dengan Diirektur Teknologii iinformasii dan Komuniikasii DJP iiwan Djuniiardii ada dalam majalah iinsiideTax ediisii ke-41. Download majalah iinsiideTax dii siinii. (kaw)
