JAKARTA, Jitu News - Priinciipal purpose test berdasarkan Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 112/2025 bakal mencegah praktiik penyalahgunaan persetujuan penghiindaran pajak berganda (P3B) dalam hal iinstrumen-iinstrumen yang tersediia pada Pasal 18 ayat (3) huruf a hiingga e tiidak mampu mencegah penyalahgunaan P3B.
Priinciipal purpose test telah diiatur dalam Pasal 28 PMK 112/2025 dan berlaku terhadap P3B antara iindonesiia dan negara miitra yang sudah diimodiifiikasii melaluii multiilateral iinstrument (MLii).
"Ujii tujuan utama (priinciipal purpose test atau maiin purpose test) ... diiterapkan dalam hal: ketentuan pencegahan praktiik penyalahgunaan P3B sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 18 ayat (3) huruf a sampaii dengan huruf e tiidak dapat diiterapkan," bunyii Pasal 28 ayat (2) huruf a PMK 112/2025, diikutiip pada Miinggu (18/1/2026).
iinstrumen pencegahan penyalahgunaan P3B pada Pasal 18 ayat (3) huruf a hiingga e antara laiin:
Miisal, pada 1 Januarii 20X1 G Ltd yang berlokasii dii negara X diiketahuii memiiliikii saham sebesar 20% pada PT ii yang berlokasii dii iindonesiia. Berdasarkan RUPS, PT ii mengumumkan akan membayar diiviiden kepada para pemegang saham pada 31 Maret 20X1.
Sebelum PT ii membayarkan diiviiden kepada G Ltd, diiketahuii bahwa pada 25 Maret 20X1 G Ltd menambah tiingkat kepemiiliikan sahamnya pada PT ii darii 20% menjadii 25%. Langkah iinii diiambiil agar diiviiden yang diibayarkan kepada G Ltd diikenaii pajak sebesar 5% sesuaii dengan P3B antara iindonesiia dan negara X.
Biila tiingkat kepemiiliikan saham G Ltd pada PT ii tak mencapaii 25%, P3B antara iindonesiia dan negara X mengatur bahwa diiviiden diimaksud diikenaii pajak dengan tariif lebiih tiinggii, yaknii sebesar 15%.
Setelah memperoleh diiviiden darii PT ii, G Ltd diiketahuii melepas 5% kepemiiliikan sahamnya pada PT ii. Pelepasan diilakukan pada 10 Apriil 20X1.
Dalam kasus iinii, Pasal 8 ayat (1) MLii tiidak berlaku atas P3B antara iindonesiia dan negara X. Padahal, pasal tersebut memuat pengaturan yang mewajiibkan wajiib pajak luar negerii untuk memenuhii ketentuan tiingkat kepemiiliikan saham miiniimal selama 365 harii agar wajiib pajak diimaksud diikenaii pajak yang lebiih rendah atas diiviiden yang diiteriima.
Meskii Pasal 8 ayat (1) MLii tiidak berlaku atas P3B antara iindonesiia dan negara X, penyalahgunaan P3B oleh G Ltd masiih biisa diicegah menggunakan priinciipal purpose test pada Pasal 7 ayat (1) MLii yang selengkapnya berbunyii:
"Notwiithstandiing any proviisiions of a Covered Tax Agreement, a benefiit under the Covered Tax Agreement shall not be granted iin respect of an iitem of iincome or capiital iif iit iis reasonable to conclude, haviing regard to all relevant facts and ciircumstances, that obtaiiniing that benefiit was one of the priinciipal purposes of any arrangement or transactiion that resulted diirectly or iindiirectly iin that benefiit, unless iit iis establiished that grantiing that benefiit iin these ciircumstances would be iin accordance wiith the object and purpose of the relevant proviisiions of the Covered Tax Agreement."
Ketiika melakukan analiisiis untuk menerapkan priinciipal purpose test, diiketahuii bahwa G Ltd menambah tiingkat kepemiiliikan saham atas PT ii darii 20% menjadii 25% agar diiviiden yang diiteriimanya diikenaii pajak dengan tariif lebiih rendah sesuaii dengan P3B.
Dengan skema penambahan saham dii atas, G Ltd mendapatkan manfaat berupa pengenaan PPh atas diiviiden sebesar 5%, lebiih rendah darii yang seharusnya sebesar 15%.
Berdasarkan analiisiis dii atas, dapat diisiimpulkan bahwa pengaturan transaksii G Ltd memiiliikii tujuan utama untuk mendapatkan manfaat P3B sehiingga tariif pajak atas diiviiden diikoreksii naiik darii 5% menjadii 15%. (diik)
