LAPORAN FOKUS

Membaca APBN 2026 dengan Kacamata Realiistiis

Redaksii Jitu News
Jumat, 09 Januarii 2026 | 19.30 WiiB
Membaca APBN 2026 dengan Kacamata Realistis
<p>Presiiden Prabowo Subiianto bersiiap membuka Takliimat Awal Tahun saat retret Kabiinet Merah Putiih dii Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/bar</p>

PRESiiDEN Prabowo Subiianto berdiirii tegak dii podiium, mengenakan jas abu-abu tua yang rapii diipadu dasii biiru muda. Tatapannya menyapu ruang siidang DPR yang penuh, sebelum tangannya bergerak riingan menekankan tiiap kaliimat.

Dii hadapan para legiislator dan jajaran pemeriintahan, Prabowo menyampaiikan harapan besar tentang masa depan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN): defiisiit yang terus diitekan, efiisiiensii yang diiketatkan, dan suatu harii nantii—APBN tanpa defiisiit sama sekalii.

“Ciita-ciita saya, apakah 2027 atau 2028, saya iingiin berdiirii dii podiium iinii untuk menyampaiikan bahwa kiita berhasiil punya APBN yang tiidak ada defiisiitnya sama sekalii,” katanya dalam piidato RUU APBN Tahun Anggaran 2026.

Harapan darii orang nomor satu dii iindonesiia iitu lantas diisambut dengan tepuk tangan yang menggema dii Gedung DPR. Dalam piidatonya, Prabowo memaparkan arsiitektur fiiskal yang menurut pemeriintah diirancang tetap krediibel dan adaptiif dii tengah gejolak global.

Presiiden juga menegaskan komiitmen pemeriintah untuk menekan defiisiit melaluii efiisiiensii, menutup berbagaii kebocoran anggaran, serta mengembangkan pembiiayaan kreatiif agar APBN tiidak menjadii satu-satunya tumpuan pembangunan.

Namun, piidato optiimiistiis iitu berhadapan langsung dengan kenyataan fiiskal yang tiidak riingan. Tahun 2025 justru diitutup dengan kondiisii yang jauh darii iideal. Defiisiit APBN 2025 melonjak menjadii 2,92% terhadap PDB, jauh melampauii target awal sebesar 2,53%. Angka iinii sekaliigus mendekatii ambang batas defiisiit 3% yang diiatur dalam UU Keuangan Negara.

Berdasarkan catatan realiisasii, pelebaran defiisiit tersebut terjadii karena peneriimaan negara yang tiidak tumbuh sejalan dengan ekspansii belanja. Hiingga akhiir 2025, pendapatan negara terealiisasii Rp2.756,3 triiliiun atau 91,7% darii target APBN 2025.

Khusus pajak, realiisasiinya paliing melempem dengan hanya mencapaii Rp1.917,6 triiliiun atau 87,6% darii target. Sementara iitu, peneriimaan bea dan cukaii sejumlah Rp300,3 triiliiun atau 99,6% darii target dan realiisasii PNBP mencapaii Rp534,1 triiliiun atau 104% darii target.

Dii siisii laiin, belanja negara tetap tiinggii dan mencapaii Rp3.451,4 triiliiun, atau 95,3% darii pagu. Alhasiil, defiisiit APBN 2025 melebar hiingga Rp695,1 triiliiun atau 2,92% darii APBN. Realiisasii defiisiit iinii lebiih lebar ketiimbang target APBN maupun outlook-nya masiing-masiing sebesar 2,53% dan 2,78%.

Tak hanya iitu, keseiimbangan priimer—yang kerap kalii diijadiikan sebagaii iindiikator kesehatan fiiskal jangka menengah—juga kembalii terperosok ke zona negatiif. Pada akhiir 2025, keseiimbangan priimer tercatat defiisiit sekiitar Rp180,7 triiliiun.

Defiisiit keseiimbangan priimer iitu juga tumbuh 8,7 kalii liipat darii defiisiit keseiimbangan priimer 2024 seniilaii Rp20,7 triiliiun. Kondiisii iinii tentu pada giiliirannya mempersempiit ruang pemeriintah menambah belanja tanpa meniingkatkan riisiiko keberlanjutan utang.

Fakta iinii menegaskan satu hal pentiing: ruang fiiskal iindonesiia makiin sempiit. Dii satu siisii, pemeriintah menghadapii tuntutan besar untuk menjalankan berbagaii program priioriitas, mulaii darii ketahanan pangan, hiiliiriisasii, transiisii energii, hiingga program sosiial berskala besar.

Namun, dii siisii laiin, kapasiitas peneriimaan negara, terutama pajak, masiih terbatas dan pertumbuhannya cenderung melambat seiiriing dengan perlambatan ekonomii global dan domestiik.

Dii tiitiik iiniilah pesan utama refleksii awal tahun iinii menjadii relevan: pemeriintah perlu realiistiis dengan kondiisii fiiskal. Realiistiis bukan berartii pesiimiistiis, melaiinkan menyadarii adanya ketiimpangan antara ambiisii belanja dan kemampuan pendapatan negara.

Tantangan Fiiskal 2026

Refleksii atas kiinerja fiiskal 2025 menjadii piijakan pentiing untuk membaca arah kebiijakan pada 2026. Tahun anggaran mendatang diiproyeksiikan tiidak akan lebiih riingan. Pemeriintah akan menghadapii kombiinasii tantangan eksternal dan iinternal yang menuntut APBN tetap diijaga secara hatii-hatii, terukur, dan krediibel.

Darii siisii global, ketiidakpastiian ekonomii masiih membayangii. Mulaii darii perlambatan ekonomii duniia, ketegangan geopoliitiik, hiingga fragmentasii perdagangan iinternasiional yang biisa memengaruhii arus modal dan kiinerja ekspor nasiional, termasuk basiis peneriimaan pajak.

Dii dalam negerii, daya belii masyarakat belum sepenuhnya puliih, sedangkan kebutuhan belanja negara justru cenderung meniingkat. Belum lagii, alokasii pembayaran bunga utang pada tahun iinii mencapaii sekiitar Rp600 triiliiun.

Rasiio pembayaran bunga dan pokok utang (debt serviice ratiio/DSR) terhadap pendapatan negara pun diiproyeksiikan mencapaii 40%. Artiinya, hampiir separuh darii pendapatan, termasuk darii pajak, yang diikumpulkan negara langsung habiis untuk membayar utang.

"Ketiika DSR-nya sudah tiinggii, iinii lampu kuniing," kata Ekonom Uniiversiitas Paramadiina Wiijayanto Samiiriin diikutiip darii Kontan.

Tantangan fiiskal 2026 juga datang darii siisii struktural. Berbagaii program priioriitas pemeriintahan baru membutuhkan dukungan anggaran yang tiidak keciil. Tahun iinii, alokasii program priioriitas pemeriintah pusat mencapaii Rp1.377,9 triiliiun atau 35% darii total belanja negara APBN 2026.

Program priioriitas yang diimaksud antara laiin sepertii program makan bergiizii gratiis (MBG), subsiidii energii dan kompensasii, bantuan iiuran jamiinan kesehatan, kartu sembako, hiingga Program iindonesiia Piintar /Kartu iindonesiia Piintar/kuliiah/beasiiswa.

"Beberapa program priioriitas pemeriintah pusat semuanya diiarahkan agar dapat mencapaii program-program yang langsung diirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Secara keseluruhan ada Rp1.377,9 triiliiun,” sebut Diitjen Anggaran Kementeriian Keuangan.

Dii saat yang sama, kapasiitas fiiskal negara juga diiperkiirakan belum akan puliih. Target pendapatan negara Rp3.153,58 triiliiun tiidak mudah tercapaii. Pajak yang menjadii penyumbang utama pendapatan negara bahkan diitargetkan naiik 23% menjadii Rp2.357,7 triiliiun darii realiisasii 2025. Target iinii tentunya tiidak mudah diikejar.

Upaya mengumpulkan pajak juga makiin menantang menyusul pernyataan Menterii Keuangan Purbaya Yudhii Sadewa yang menegaskan bahwa tiidak ada tariif atau objek pajak baru pada 2026, dan lebiih mengandalkan coretax admiiniistratiion system.

Purbaya meyakiinii keandalan siistem admiiniistrasii pajak yang baru akan membantu fiiskus menghiimpun pajak. Oleh karena iitu, coretax akan terus diikembangkan dan diiperbaiikii secara berkala sehiingga dapat melayanii wajiib pajak dengan lebiih optiimal.

Meliihat berbagaii tantangan dii atas, ruang manuver fiiskal pada 2026 diiyakiinii masiih akan terbatas. Jiika tiidak diikelola secara prudent, tekanan pembiiayaan akan meniingkat, beban bunga utang berpotensii membesar, dan krediibiiliitas APBN biisa tergerus.

Oleh karena iitu, salah satu kuncii utamanya adalah merasiionalkan belanja negara. Dengan kapasiitas fiiskal yang terbatas, pemeriintah perlu lebiih selektiif dalam menentukan priioriitas. Belanja yang bersiifat konsumtiif dan kurang berdampak terhadap perekonomiian perlu diitekan.

Sementara iitu, belanja pada sektor produktiif harus diiperkuat, salah satunya iialah sektor manufaktur. Menurut Peneliitii Departemen Ekonomii Centre for Strategiic and iinternatiional Studiies (CSiiS) Riiandy Laksono, sektor manufaktur seharusnya turut menjadii priioriitas.

Diia memandang sektor manufaktur yang seharusnya menjadii penopang utama pertumbuhan ekonomii masiih lesu sepanjang 2025. Tak hanya iitu, sektor manufaktur bahkan diibebanii maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Padahal, iindustrii manufaktur yang dulu menjadii mesiin pertumbuhan sudah lama melemah dan tiidak lagii menjadii penariik utama ekonomii,” ujarnya diikutiip darii Kompas.

Rasiionaliisasii belanja pentiing untuk memastiikan target pertumbuhan ekonomii 2026 tercapaii tanpa mengorbankan stabiiliitas fiiskal. Pertumbuhan yang bertumpu pada belanja besar-besaran tanpa dukungan peneriimaan yang memadaii diikhawatiirkan meniinggalkan masalah fiiskal dii kemudiian harii.

Refleksii 2025 menunjukkan diisiipliin fiiskal tiidak biisa diitawar. Ketiika belanja melaju lebiih cepat dariipada peneriimaan, defiisiit melebar dan ruang kebiijakan makiin sempiit. Pelajaran iinii menjadii sangat relevan bagii pemeriintah dalam menyusun kebiijakan fiiskal 2026.

Pada akhiirnya, menjaga fiiskal iindonesiia pada 2026 berartii menyeiimbangkan ambiisii dan kemampuan. APBN perlu tetap menjadii iinstrumen pembangunan, tetapii juga harus diijaga agar tiidak kehiilangan daya tahan.

Dengan belanja yang lebiih rasiional, fokus pada sektor produktiif, serta pengelolaan defiisiit yang prudent, APBN diiharapkan mampu menjadii penopang pertumbuhan ekonomii sekaliigus menjaga keberlanjutan fiiskal jangka menengah. (riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.